Cagar Alam Pulau Dua: Pulau Surga Burung di Teluk Banten

Kuntul kerbau Bubulcus ibis dalam bulu berbiak

Saat mendengar nama “Banten”, maka yang mungkin langsung terlintas di pikiran kita adalah para Pendekar yang pandai memainkan ilmu silat, atau ilmu kebal tubuh yang biasa diperlihatkan sebagai debus. Selain itu, Banten juga identik dengan peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan Islam di tanah air.

Banten sebenarnya juga telah mendunia karena memiliki “harta karun” berupa kekayaan alam yang bernilai tinggi ditinjau dari sudut pelestarian alam. Taman Nasional Ujung Kulon telah lama dikenal sebagai kawasan konservasi penting di dunia yang mendukung kehidupan Badak bercula satu. Bahkan kawasan ini telah diakui sebagai Cagar Biosfir Dunia. Disamping Taman Nasional Ujung Kulon, sebenarnya terdapat sebuah “harta karun” lain yang juga telah mendunia, akan tetapi belum dikelola dengan maksimal. Kawasan tersebut adalah Cagar Alam Pulau Dua. Untuk melihat lebih jauh “harta karun” tersebut, penulis beberkan potensi dari Cagar Alam Pulau Dua.

“Pulau” yang bukan pulau

Peta sebaran vegetasi di Cagar Alam Pulau Dua

Cagar Alam Pulau Dua terletak kira-kira 10 km dari kota Serang atau kurang dari 5 km dari Pelabuhan Karang Hantu, yang oleh para pedagang Belanda dan Portugis tempo doeloe disebut sebagai “The Gateway to Java“. Pelabuhan ini merupakan jalan masuk penjajah Belanda dan Portugis untuk menancapkan kukunya di Pulau Jawa 400 tahunan yang lalu.

Meskipun namanya Pulau Dua, pada kondisi sekarang kawasan ini sebenarnya bukan merupakan pulau lagi. Karena terjadinya pelumpuran di sebelah selatan, pulau yang dipisahkan oleh selat sepanjang 500 meter ini kemudian tersambung dengan Pulau Jawa, sehingga namanya yang benar adalah bukan Pulau Dua lagi, tapi Pulau Jawa ……….. tapi apalah artinya sebuah nama.

Jika dirunut kebelakang, sejarah Pulau Dua dimulai pada dekade awal abad ini. Pada masa itu, penduduk setempat telah mengetahui Pulau Dua (yang masih benar-benar pulau) sebagai lokasi dimana banyak burung yang bertelur dan membesarkan anak-anaknya. Rupanya, cerita “ribut-ribut” antara pembuat keputusan dan masyarakat mengenai penggunaan sumber daya alam juga sudah ada pada jaman itu. Meskipun sudah ada peraturan yang mengatur masalah perlindungan alam (Natuurmonumenten Ordonantie), masyarakat setempat masih ingin turut menikmati telur-telur burung air sebagai tambahan protein. Untuk mengatasi terus berlangsungnya pengambilan telur, pada tahun 1936 suatu organisasi perkumpulan pencinta alam Hindia Belanda mengusulkan Pulau Dua sebagai kawasan perlindungan burung liar. Karena adanya usulan, desakan dan lobi yang intensif, pada tahun 1937 Pemerintah Pusat di Batavia kemudian menetapkan Pulau Dua sebagai kawasan. Hal ini berarti tidak memperbolehkan adanya kegiatan manusia di dalam kawasan , kecuali untuk kegiatan penelitian. Empat puluh tahun kemudian (1977), Pemda Kabupaten Serang menegaskan kembali status Pulau Dua sebagai Kawasan Pelestarian Alam.

Seperti diceritakan dimuka, pelumpuran di selat yang memisahkan Pulau Dua dan Pulau Jawa kemudian menghasilkan tanah timbul yang sebagian diantaranya kemudian ditumbuhi oleh komunitas mangrove baru, yaitu Avicennia marina, bersambung dengan komunitas mangrove lama yang didominasi oleh Rhizopora apiculata. Sementara itu, sebagian tanah timbul lainnya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tambak. Karena telah bersatu, usaha-usaha untuk meningkatkan perlindungan burung air di dalamnya dirasa sangat diperlukan, dan, syukurnya, kemudian ditanggapi dengan dikeluarkannya SK Menteri Kehutanan tahun 1984 yang menyatakan penambahan luas areal Cagar Alam dari 8 hektar menjadi 30 hektar, termasuk komunitas Avicennia marina yang baru.

Surga perkawinan burung air

Sejak awal, Pulau Dua memiliki nilai lebih karena menjadi lokasi berbiaknya berbagai jenis burung air. Salah seorang pemuka pelestarian burung pada jaman Hindia Belanda, Hoogerwerf, menyatakan bahwa pada awal penunjukannya sebagai Cagar Alam, kawasan ini menjadi rumah bagi setidaknya 71 jenis burung, termasuk 14 jenis yang berbiak, diantaranya Mycteria cinerea yang konon hanya tersisa 6000-an ekor di seluruh dunia (95% ada di Indonesia). Ditambah dengan berbagai catatan lain sesudahnya, sampai tahun 1998 ini jumlah burung yang tercatat adalah sekitar 110 jenis, dimana lebih dari setengahnya terdiri dari burung air.

Pada saat-saat tertentu, biasanya antara Desember sampai Juli, Pulau Dua berubah menjadi tempat upacara perkawinan massal. Dimulai pada bulan Desember, para calon pengantin sibuk mempercantik diri, mencari pasangan hidup dan melangsungkan perkawinan. Beberapa jenis diantaranya berdandan dengan merubah penampilan warna bulu dan anggota tubuh lainnya. Kuntul besar Casmerodius albus, misalnya, merubah warna paruh yang tadinya kuning menjadi hitam ditambah dengan dengan rumbai-rumbai bulu di bagian dada dan ujung ekor. Kuntul (temannya) Kerbau Bubulcus ibis lebih memilih untuk merubah warna bulu kepala, leher dan dadanya; dari putih menjadi warna yang lebih ngejreng, yaitu oranye. Sementara itu, Kuntul kecil Egretta garzetta lebih memilih paket yang lebih hemat, yaitu dengan menambahkan dua buah kuncir panjang di belakang kepala.

Pada sekitar bulan Januari, setelah ikatan perkawinan terjadi, kedua pengantin sibuk mencari bahan-bahan sarang di luar maupun di dalam pulau dan membangunnya, terutama, di pohon mangrove. Setelah selesai, si Ibu mulai bertelur dan mengerami telurnya yang jumlahnya 2 – 5 butir. Setelah telurnya menetas, kedua orang tua bergiliran mencari makan di daerah tambak dan sawah. Pada saat sibuk, Pulau Dua dihuni oleh ribuan pasang burung air. Perhitungan tahun 1996 menunjukan jumlah sekitar 20.000 pasang.

Pada saat perkawinan, sebagian besar jenis burung air disini sangat setia pada pasangannya. Mereka umumnya bersifat monogami, meskipun ada beberapa individu yang suka melirik individu di sarang lain. Walaupun demikian, setelah masa berbiak selesai dan anak-anak sudah bisa mandiri, ikatan perkawinanpun bubar. Mereka mulai keluar dari pulau dan mencari kehidupan sendiri-sendiri, tinggal di tempat lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Pada saat musim kawin berikutnya datang, ketika kebutuhan biologis memanggil, mereka mulai berdatangan kembali ke tempat kelahiran di Pulau Dua, rujuk dengan pasangan lama atau mencari pasangan yang lain. Demikian seterusnya.

Adanya siklus perkawinan dari beberapa jenis burung air dalam lokasi yang berdekatan, menjadikan Pulau Dua sebagai tempat yang sangat baik untuk melakukan berbagai penelitian mengenai biologi perkembangbiakan burung air. James Hancock, seorang peneliti burung air dan penulis buku “The Herons of the World” dalam catatannya mengatakan, ” …… In so small a space, the distance between individual nests is very slight, and the opportunity to watch the interplay between individuals of several species is unrivalled anywhere. ……………. this remarkably heronry was my study area for the herons of SE Asia, not only for observing behaviour, ….., but also because the various subspecies of white egrets here created a considerable challenge in identification”. Untuk menggali informasi mengenai kehidupan burung air, berbagai penelitian telah dilakukan oleh beberapa mahasiswa dari berbagai Universitas.

Akankah Cagar Alam Pulau Dua bisa terus bertahan?

Meskipun pengikisan pantai masih berlangsung di bagian utara pulau, akan tetapi kondisi alami pulau serta perairan di sekitarnya masih cukup baik dan dapat memberikan daya dukung yang memadai untuk burung-burung air yang berbiak. Bersambungnya pulau ke daratan Jawa serta sifat burung air yang hanya berbiak di pulau dan mencari makan di Pantai Utara Jawa, menjadikan kehidupan mereka sangat rentan. Kelangsungan hidup mereka justru sangat bergantung kepada berbagai kegiatan antropogenik, baik di lokasi berbiak maupun di lokasi mencari makan.

Pulau Dua dan Pulau Satu serta tambak di sekitarnya (Google Earth)

Bersatunya pulau menjadikan akses yang lebih mudah, sehingga kunjungan wisata serta pengambilan kayu bakar membuat pihak pengelola sibuk mencari jalan keluar agar kegiatan tersebut tidak berlangsung terus dan tidak mengganggu koloni. Salah satu akibat gangguan manusia di lokasi berbiak adalah berhenti berbiaknya beberapa jenis burung. Burung Wilwo terakhir tercatat berbiak pada tahun 1975 dan kemudian hengkang ke tempat lain, diantaranya di Pulau Seribu, yang tercatat sebagai satu-satunya tempat berbiak mereka di Pulau Jawa.

Dalam skala yang lebih besar, perubahan peruntukan habitat mereka mencari makan menjadi lokasi industri, perumahan dan lainnya tidaklah mungkin diatasi oleh burung. Paling-paling yang bisa mereka lakukan adalah mencari makan di tempat yang lebih jauh, yang berarti mengurangi jumlah rit mereka pulang-pergi mencari makan, dan berarti makin sedikit pula jumlah makanan yang bisa dibawa pulang untuk si kecil yang menanti dengan lapar di sarang.

Akankah mereka bisa bertahan hidup di Pulau Dua ? Alam masih menyediakan daya dukung di lokasi berbiak yang baik, bahkan dalam beberapa hal justru lebih baik, karena tersedianya hunian baru berupa pohon-pohon bakau yang baru tumbuh di tanah timbul. Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah si Homo sapiens mau menghentikan tekanannya terhadap habitat berbiak burung tersebut, dan apakah manusia mau sedikit berbagi tempat mencari makan dengan mereka. Burung tidak dapat melakukan protes, unjuk rasa, demonstrasi atau melakukan lobi tingkat tinggi; yang mungkin mereka harapkan adalah kebijakan manusia sebagai Sang Khalifah di muka bumi

By ecodien Posted in Eco

2 comments on “Cagar Alam Pulau Dua: Pulau Surga Burung di Teluk Banten

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s