Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok dan kisah pembelajaran dari Ibnu Hajar Al Asqalani

…duluuuu waktu masih belajar di SD, Ibu saya, yang juga guru saya di SD, sering bercerita kisah-kisah inspiratif sebagai penguat untuk menggali ilmu dan mengarungi kehidupan. Salah satu yang paling saya ingat adalah cerita yang melahirkan peribahasa Sunda, “Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok”. Secara harfiah terjemahannya adalah Cikaracak (air yang menetes pelan-pelan dari atas) menimpa batu lama-lama menjadi berlubang atau cekung. Makna yang saya mengerti saat itu adalah dengan melakukannya secara terus menerus, biar sedikit-sedikit, maka akhirnya akan tercapai juga apa yang kita mau.

Yang saya ingat dari dongeng yang disampaikan Ibu, peribahasa tersebut terinspirasi dari kisah seorang Santri yang mondok di pesantren tapi mengalami kesulitan untuk belajar dan mengingat apa yang diajarkan oleh Kiyai dan pengajar lainnya. sampai suatu ketika si Santri tersebut menyerah dan memutuskan untuk keluar dari pesantren. Dalam perjalanan pulang, turun hujan sehingga si Santri berteduh di sebuah gua, dan secara kebetulan melihat ada air yang menetes dari langit-langit gua dan menimpa batu di bawahnya. Yang menarik perhatian adalah ternyata permukaan batu tersebut menjadi cekung atau berlubang karena ditimpa tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit. Hal itu membuat si Santri terpesona dan mulai berpikir bahwa batu yang demikian keras sekalipun jika terus menerus ditimpa oleh tetesan air, meskipun kecil, maka akhirnya akan cekung juga. Singkat cerita, si Santri pun pulang kembali ke pesantren, belajar dengan lebih tekun dan sungguh-sungguh, sehingga kemudian kelak dikenali sebagai salah seorang Ulama besar di zamannya. Titik.

Hanya cerita tersebut diatas yang saya peroleh waktu itu, dan kemudian benar-benar menjadi pendorong inspiratif untuk tidak menyerah dalah menghadapi berbagai tantangan. Namun, hanya baru-baru ini saja saya mendengarkan ceramah seorang Dai terkenal bahwa cerita tersebut sebenarnya adalah kisah nyata yang diinspirasi oleh perjalanan Ibnu Hajar Al Asqalani, seorang Ulama besar yang karyanya banyak dijadikan rujukan hingga kini. Beliau lahir pada tahun 773 H di pinggir sungai Nil, Mesir dengan nama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani Al-Mishri. Ayah dan Ibunya wafat ketika beliau masih balita. Dari ceramah yang saya dengar tersebut, kisah beliau sewaktu kecil adalah persis seperti yang diceritakan diatas, hingga kemudian kemudian menjadi Ulama besar dengan nama pena Ibnu Hajar Al Asqalani. Konon, nama “Ibnu Hajar” yang berarti “anak batu” tersebut juga didasarkan pada kisah tersebut. Hingga wafatnya pada tahun 852H, beliau telah menghasilkan setidaknya 150 karya (bahkan ada yang menyebutkan 270 karya), diantaranya yang sangat dikenali adalah Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari dan Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.

Saya sendiri tidak tahu persis apakah peribahasa “Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok” tersebut adalah benar-benar kisah nyata dari Ulama besar Ibnu Hajar Al Asqalani. Yang jelas, peribahasa tersebut benar-benar menginspirasi hidup saya, dan mudah-mudahan juga jadi inspirasi generasi berikutnya. Wallahu alam…..

(Yus Rusila Noor….ketika jalan pagi di Taman Heulang, Bogor; 6 Nov 2017)

Iklan

Hari International untuk Konservasi Ekosistem Mangrove

Tanggal 26 Juli adalah Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem). Hal ini mengacu pada diadopsinya proklamasi oleh Konferensi Umum (General Conference) badan PBB untuk pendidikan UNESCO, pada tanggal 6 November 2015. Tanggal 26 Juli sebenarnya telah diperingati di banyak negara sebagai Hari Internasional untuk Pertahanan Ekosistem Mangrove, tetapi belum pernah dikukuhkan oleh badan PBB manapun. Tanggal 26 Juli 2016 kemudian dikukuhkan secara resmi sebagai hari perayaan tersebut.

Dalam pertimbangannya, UNESCO mempertimbangkan bahwa mangrove adalah ekosistem yang unik, spesial dan rentan, yang kehadiran, biomassa dan produktifitasnya sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Mangrove memberikan berbagai jasa dan penyediaan manfaat di bidang kehutanan dan perikanan serta membantu perlindungan pantai, khususnya terkait dengan mitigasi dampak dari perubahan iklim dan keamanan pangan bagi masyarakat lokal. Dalam sambutan pengukuhan, Direktur Jenderal UNESCO, Ms. Irina Bokova, menyampaikan bahwa ekosistem mangrove sangat penting karena berbagai manfaat dan fungsi yang disediakannya. Kelangsungan hidup mereka sangat terancam akibat kenaikan permukaan air laut serta semakin langka dan terancam punahnya keanekaragaman hayati yang hidup di ekosistem mangrove. Bumi dan kemanusiaan akan sangat mengalami kerugian jika ekosistem tersebut sampai musnah. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

Berbagi ilmu lahan basah di negeri ginseng

Bandara Incheon, Korea, 25 Mei 2017

Atas undangan dari Ramsar Regional Centre East Asia (RRC EA) dan National Wetlands Centre Korea, saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke Korea lagi. Saya memang cukup kenal baik dengan Director RRC EA, Mr. Suh, karena sudah beberapa kali menjalin kerja sama dalam pelatihan lahan basah. Mereka sebenarnya mengundang saya awal bulan Mei untuk memberikan ceramah pada kegiatan Regional Wetlands Manager training yang mereka adakan. Tapi sayang akhirnya saya tidak bisa hadir karena waktunya yang terlalu sempit untuk pengurusan visa. Untuk kunjungan kali inipun sebenarnya hampir tidak jadi berangkat karena keterbatasan waktu pengurusan visa tersebut. Untunglah, karena yang mengundang adalah Pemerintah, maka Kemenlu Korea bisa langsung menghubungi Kedutaan Besar di Jakarta. Akhirnya, visa bisa jadi dalam kurun waktu kurang dari 5 hari, meskipun waktu pengurusan normalnya adalah sekitar 10 hari.

Dipesankan tiket Asiana Airlines langsung Jakarta – Incheon, berangat jam 23.35 tengah malam dari bandara Soetta, lumayan on-time. Di dalam pesawat lumayan leluasa dengan ruang kaki yang cukup lapang dan flight entertainment yang lumayan bagus, meskipun pilihan filmnya tidak terlalu banyak. Karena ngantuk sekali, akhirnya sebagian besar waktu digunakan untuk tidur, meskipun tidak pules-pules amat. Baca lebih lanjut

Merayakan Hari Burung Migran di Perbatasan Negara

Merayakan Hari Burung Migran di Perbatasan Negara

Wasur adalah nama tempat yang pertama saya ingat ketika awal-awal bergabung dengan Asian Wetlands Bureau (AWB – kemudian berubah menjadi Wetlands International), sekitar akhir tahun 1989. Ketika itu, saya banyak membaca laporan dari Tim Survey AWB dan PHPA Dephut (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) di beberapa lokasi penting lahan basah Indonesia, termasuk di Papua. Beberapa lokasi yang saya ingat betul di Papua waktu itu adalah Wasur, Rawa Biru, Pulau Kimaam dan Teluk Bintuni. Dari Semuanya, nama Wasur lebih melekat karena sejarah dan perkembangannya yang saya ikuti kemudian. Yang saya ingat, Wasur adalah lahan basah penting karena merupakan ekosistem padang rumput basah yang menjadi tempat hidup berbagai jenis satwa liar, terutama burung air, buaya, rusa dan walabi.

Wasur, sejak tahun 1978 adalah merupakan Suaka Margasatwa seluas 2.100 km², kemudian berubah menjadi Taman Nasional pada tahun 1990 dengan luas 4.138 km². Ikatan degan Taman Nasional Wasur kemudian menjadi lebih menguat ketika pada tahun 1996 saya mengikuti pertemuan CoP Ramsar di kota Brisbane, Australia. Ketika itu, Dirjen PHPA sedang berdiskusi serius dengan Direktur Australian National Park and Wildlife Service (ANPWS). Tiba-tiba Pak Dirjen memanggil saya untuk mendekat, dan menanyakan lokasi yang cocok untuk diusulkan sebagai lokasi penting burung air migran di Indonesia (saya tidak terlalu ingat apakah juga lokasi penting untuk Konvensi Ramsar). Karena sudah banyak membaca mengenai kepentingannya, maka secara spontan saya menjawab “Wasur”. Maka jadilah kemudian Wasur yang diusulkan. Saya juga kemudian ikut aktif dalam pengusulan Wasur sebagai lokasi Tri-National Park Sistership bersama-sama dengan TN Tonda di PNG dan TN Kakadu di Australia, hingga kemudian Taman Nasional Wasur ditunjuk menjadi Lokasi Ramsar pada tahun 2006. Bahkan saya sempat memberikan pelatihan kepada 2 orang Staf TN Wasur di kota Broome, Australia. Training ditunjukan untuk pegenalan identifikasi survey dan pelaporan pengamatan burung air. Agak merasa kurang sempurna memang, karena sebenarnya saya belum pernah menjejakan kaki di TN Wasur, dan hanya memberikan pelatihan berdasarkan informasi yang saya baca dari laporan teman-teman AWB. Baca lebih lanjut

Musamus, lambang kerja keras, kerja cerdas dan kerja sama

Ketika menjejakan kaki di hutan dan sabana wilayah Merauke, Papua, salah satu pemandangan mencolok yang menarik perhatian adalah “bangunan” berbentuk kerucut berwarna merah muda kecoklatan dengan celah dan bolong-bolong kecil. Itulah sarang semut khas Merauke, atau yang biasa disebut dengan Musamu. Meskipun disebut sebagai sarang semut, sejatinya itu adalah karya alam luar biasa yang dibangun oleh kawanan rayap Macrotermes sp. Sarang yang menjulang keatas hingga ketinggian sekitar 5 meter tersebut dibangun oleh rayap dengan bahan baku dari campuran tanah, rumput kering dan air liur rayap, sedemikian rupa sehingga sambung menyambung menjadi bangunan kokoh dengan system aerodinamis dan ventilasi udara yang memberikan kenyamanan bagi koloni rayap yang hidup di dalamnya. Bangunan tersebut demikian kokoh, sehingga tidak akan roboh kalaupun dinaiki oleh manusia dewasa.
Musamus merupakan filosofi untuk bekerja keras secara cerdas dan dilakukan dengan gotong royong. Mungkin karena itu, Musamus banyak dijadikan sebagai lam termasuk lambang Pemerintah Kabupaten Merauke dan Universitas Musamus.

By ecodien Posted in Eco

Ijazahnya diatas Summa Cum Laude

Republika hari ini memuat kisah tentang Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Beliau adalah pendiri Nahdlatul Wathan di NTB. Saya sendiri sama sekali tidak punya informasi mengenai Beliau selama ini.

Menarik mengikuti prestasi pendidikan Beliau yang menuntut ilmu di Madrasah Ash-Shaulatiyah, madrasah pertama dalam dunia pendidikan Arab Saudi, yang didirikan tahun 1219H. Di madrasah yang sama juga pernah belajar KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhamaddiyah) dan KH Hasyim Asyari (pendiri NU).

TGKH Zainuddin dinilai sebagai murid yang sangat tekun dalam belajar, dan berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu enam tahun, padahal waktu belajar normal adalah 9 tahun. Beliau meraih predikat Mumtaz (istimewa) disertai perlakuan istimewa. Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkemuka di Makkah. Ijazahnya juga langsung ditandatangani oleh delapan guru besar madrasah, sesuatu yang tidak lazim. Gelar yang kemudian diberikan di ijazah adalah Saudara yang Mulia, sang genius sempurna, Guru terhormat Zainuddin Abdul Madjid, dan ditambah Yang tak tertandingi, dan lebih tinggi dari summa cum laude (saya tidak tahu seberapa terhormat gelar tersebut, dan berapa orang yang pernah menyandangnya. Menurut saya sih, sangat keren sekali). Semua nilai ijazahnya 10 untuk seluruh mata pelajaran + tanda bintang.

Setelah kembali ke tanah air, beliau tidak hanya bergelut dalam pendidikan agama, tetapi juga dalam perjuangan membela tanah air. Beliau aktif dalam gerakan Banteng Hitam, Bambu runcing, dan Badan Keamanan Rakyat yang berjuang melawan tentara NICA di Pulau Lombok.

Sangat senang membaca kembali kisah orang-orang hebat, kaya ilmu, rendah hati dan bekerja langsung di masyarakat. Semoga Allah SWT menempatkan Beliau di tempat yang terbaik.

By ecodien Posted in Dien

Hari Burung Bermigrasi Sedunia – World Migratory Bird Day

Migrasi merupakan kegiatan berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dalam dunia binatang, migrasi biasanya diartikan sebagai perpindahan, baik secara horizontal maupun vertikal, yang dilakukan pulang-pergi secara teratur dimaksudkan untuk menghindari kondisi yang tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan kehidupannya. Kegiatan migrasi sangat nampak terlihat dalam dunia burung. Setiap tahun, jutaan ekor burung melakukan migrasi dari lokasi tempat mereka berbiak menuju lokasi lain yang secara ekologis dapat menyediakan kebutuhan untuk makan dan melanjutkan hidupnya. Hal tersebut umumnya terjadi akibat kondisi cuaca ekstrim yang menimpa lokasi tempat berbiak. Selama musim dingin, tempat mereka berbiak akan dipenuhi dengan salju, sehingga harus mencari tempat yang lebih hangat dan menyediakan sumber makanan yang berlimpah.

Migrasi di dunia burung adalah merupakan fenomena alam yang luar biasa. Makhluk bersayap yang ukurannya rata-ratanya sekepalan orang dewasa tersebut sanggup melakukan terbang jarak jauh hingga ribuan atau bahkan belasan ribu kilometer pulang-pergi. Burung Kedidi merah Calidris canutus, misalnya, yang berukuran dari ujung paruh sampai ke ujung ekor sekitar 24 cm, sanggup melakukan perjalanan sepanjang 16.000 kilometer setahun dua kali. Mereka berbiak di Siberia dan selama musim dingin melakukan migrasi hingga ke ujung selatan Afrika. Ada pula puluhan jenis lainnya yang berbiak di Siberia dan kemudian memilih jalur migrasi melewati Asia Timur, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga ke pulau-pulau di wilayah Pasifik. Mereka telah dibekali dengan struktur morfologi, fisiologi dan kemampuan terbang serta menentukan arah yang hingga saat ini masih merupakan bagian penelitian dari para ahli. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

sistem reverse listing dalam perlindungan satwa

….kemarin berdiskusi mengenai sistem pelestarian alam di Indonesia. Tercetus gagasan lama mengenai sistem “reverse listing” atau yang dalam bahasa kita sering disebut sebagai pembuktian terbalik. Dalam sistem perlindungan saat ini, kaidah perlindungan satwa dan tumbuhan adalah semua jenis tidak dilindungi, kecuali yang dilindungi. Begitu pula dengan kawasan lindung, semua wilayah di Indonesia adalah tidak dilindungi, kecuali yang diumumkan sebagai kawasan yang dilindungi. Dengan sistem seperti ini, maka jenis-jenis yang baru ditemukan akan otomatis tidak dilindungi (kecuali kalau masuk dalam famili yang sudah dilindungi), dan pihak pelestari harus “berdarah-darah” untuk meneliti, mengkaji dan meyakinkan bahwa suatu jenis atau suatu kawasan adalah penting bagi kehidupan manusia dalam jangka panjang, sehingga harus dilindungi. Jika bisa meyakinkan dan mendapat dukungan, maka jenis atau wilayah tersebut dapat dilindungi. Tetapi jika tidak didukung, maka jenis atau suatu wilayah tidak dilindungi, dengan segala konsekuensinya, termasuk kemungkinan eksploitasi berlebih.

Dalam sistem “reverse listing”, polanya dirubah, semua jenis satwa dan tumbuhan dilindungi, kecuali yang tidak dilindungi. Dengan demikian, jenis-jenis yang baru ditemukan (yang notabene seharusnya langka) atau yang dipisah secara taksonomi, akan otomatis dilindungi. Dengan sistem seperti ini pula, maka pihak penggunalah yang harus meneliti, mengkaji dan meyakinkan bahwa suatu spesies atau wilayah tertentu adalah benar-benar layak untuk tidak dilindungi, dan kemudian dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dengan sistem ini, maka beban pembiayaan penelitian akan beralih kepada pihak pengguna, sementara anggaran dari pemerintah dapat ditujukan pada penelitian lain yang lebih berdaya guna, baik untuk pelestarian maupun pemanfaatan yang berkelanjutan…. Tentu akan banyak implikasinya, tetapi sebagai sebuah gagasan untuk Indonesia yang lebih baik, kenapa tidak dipikirkan…

By ecodien Posted in Eco

Ketika saya terpaksa bersurat kepada Bapak Presiden (03 & 04 Januari 2016)

…membaca berita bahwa Bapak Presiden kemarin membeli 190 ekor berbagai jenis burung, untuk dilepaskan pagi ini di halaman Istana Bogor. Dengan segala hormat atas niat baik Bapak Presiden, saya berharap kegiatan tersebut dibatalkan. Ada beberapa pertimbangan yang selayaknya dipertimbangkan sebelum burung dilepaskan, 1) apakah lokasi pelepasan aman? Tidak ada pemburu? 2) apakah jenis-jenis yang akan dilepaskan benar-benar jenis lokal? Bukan jenis pendatang yang akan membahayakan jenis-jenis lokal (invasive alien species)? 3) apakah individu burung yang dilepaskan benar-benar bebas dari penyakit, yang bisa mengganggu jenis-jenis liar? 4) apakah lokasi pelepasan bisa menyediakan makanan alami jenis-jenis burung yang akan dilepaskan? 5) memborong di pasar burung yang dilakukan oleh Bapak Presiden akan menimbulkan kesan bahwa itu hal yang layak dilakukan. Dikhawatirkan akan menginspirasi para pejabat lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga permintaan terhadap burung di pasar burung akan meningkat, dikhawatirkan juga kemudian pasokan dari alam liar juga akan meningkat. Mungkin akan lebih baik jika burung yang dilepaskan berasal dari penangkaran khusus di Istana, setelah melalui kajian oleh para ahli hidupan liar/Biolog. Mohon maaf atas kelancangan ini, saya hanya pencinta burung liar di alam liar. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberikan keberkahan kepada Bapak Presiden dan Staf dalam menjalankan amanah…. (terima kasih kepada Rudy Rudyanto , Colin Trainor dan teman-teman pencinta burung liar di alam liar atas ilmu dan kebersamaannya) (03 Januari 2016) Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

A note from Asian Waterbird Census 2016, Sembilang National Park, South Sumatra

A team of Wetlands International Indonesia and Ministry of Environment and Forestry Staff visited Sembilang National Park, South Sumatra, during the 3rd week of January 2016. It was part of the 50th International Waterbird Census #IWC50 event which is celebrated by birdwatchers all over the world during the month of January. In Indonesia, the event is organized by Wetlands International Indonesia in collaboration with the Ministry of Environment and Forestry and Yayasan Lahan Basah Indonesia – YLBI (Indonesian Wetlands Foundation).

Sembilang National Park has one of the best remaining intact mangrove areas of 87,000 ha within the overall 200,000 hectares park area. It is home to a high wetland biodiversity, including no less than 150 bird species. The park is also serves as the internationally importance non-breeding (northern wintering) habitat for hundreds of thousands of migratory waterbirds as well as endangered and vulnerable resident waterbird species. Considering these importance roles, Sembilang National Park has been designated as a Ramsar Site and an East Asian – Australasian Flyway Partnership Network Site.

During our trips, several flocks of thousands of migratory shorebirds have been observed along the boat trip from Banyuasin delta to the park areas, mostly dominated by Common Redshank (Tringa totanus) and Terek Sandpiper (Xenus cinereus). A large population of the vulnerable Milky Stork (Mycteria cinerea) and Lesser Adjutant (Leptoptilos javanicus) were also observed at the same mudflat areas of the park, along with thousands of gull (Laridae) and tern (Sternidae) species. In addition, we observed a breeding population of Brahminy Kite (Haliastur indus), White-bellied Sea Eagle (Haliaeetus leucogaster) and Grey-headed Fish Eagle (Ichthyophaga ichthyaetus). Photo and videos identification is still underway to develop a more accurate species list of bird species observed during the census.

This survey has re-confirmed the international importance of Sembilang National Park for migratory as well as resident waterbirds. The information derived from this census is important for the management of the national park.

(Reported by Yus Rusila Noor and Ragil Satriyo Gumilar)

By ecodien Posted in Eco

…kapan Anda bangga sebagai orang Indonesia

….pernahkah anda benar-benar merasa bangga sebagai orang Indonesia? Kapan anda benar-benar tulus dari dalam hati berujar, “Saya orang Indonesia”? Beberapa kejadian atau suasana yang membuat saya bangga atau benar-benar merasa sebagai orang Indonesia, diantaranya:

1) Ketika turut menyanyikan lagu Indonesia Raya ditengah komunitas internasional, di Kedutaan Indonesia atau di suatu acara di luar negeri…..rasanya merinding bulu kuduk. Kebayang mereka yang berhasil meraih medali atau penghargaan internasional;
2) Ketika berkunjung ke beberapa negara Afrika, dan orang-orang di desa (terutama para warga senior) selalu menyapa, “Apa kabarnya Soekarno?”….hmmm, nama baik tak lekang oleh waktu;
3) Ketika diundang sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia dalam pertemuan perubahan iklim PBB (UNFCCC). Dengan spontan, di awal presentasi saya sampaikan bahwa, “Saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang berbicara tentang Indonesia, negara saya sendiri”…..rasanya plong banget, meskipun kemudian banyak pertanyaan yang harus dijawab;
4) Ketika naik pesawat Garuda Indonesia tujuan luar, dengan semboyan World’s Best Economic Class Airline, dan melihat dan ngobrol dengan penumpang asing yang sangat puas dengan pelayanan awak pesawat….perjalanan panjang jadi lebih menyenangkan;
5) Ketika memberi ceramah di hadapan anak-anak muda/mahasiswa di beberapa negara Eropa dan Amerika, dimana kebanyakan mereka tidak kenal Indonesia. Puas rasanya melihat mereka terbengong-bengong mengetahui betapa kayanya alam Indonesia. Apalagi setelah presentasi mereka bilang tidak menyangka Indonesia sedekian besar, kaya dan beragam….Indonesia gitu lho;
6) Ketika membicarakan anak-anak muda Indonesia yang menunjukan prestasi luar biasa, dan berjuang keras untuk memperoleh prestasi tersebut. Akhir-akhir ini saya larut menikmati keberhasilan Joey Alexander dan Rio Haryanto;
7) Ketika berdebat dengan mereka yang baru sekali dua kali berkunjung ke negara tetangga, tetapi kemudian dengan lantangnya menjelek-jelekan dan menganggap remeh Indonesia dan menyanjung-nyanjung rumput tetangga yang seolah-olah jauh lebih hijau…..buat saya, Indonesia adalah tanah air beta, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bagaimana dengan Teman-teman? Kapan bangga sebagai orang Indonesia?

By ecodien Posted in Eco

Supermoon itu…

Istilah Supermoon merujuk kepada penampakan bulan di langit yang lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Para menyebutkan bahwa pada purnama itu bertepatan dengan posisi bulan yang paling dekat dengan bumi. Tentu tidak setiap saat fenomenan tersebut terjadi. Kabarnya saat terakhir bulan terdekat dengan bumi terjadi pada tahun 1948 yang lalu.

Fenomena supermoon ternyata kembali terjadi pada tanggal 13dan 14 November 2016, dengan puncaknya terjadi pada tanggal 14 November 2016, dimana bulan berada pada titik terdekat dengan bumi, kabarnya sekitar 356.508 km. Setelah itu, fenomena tersebut baru dapat dilihat kembali pada tanggal 25November 2034, sementara posisi bulan terdekat dengan bumi pada abadini akan terjadi pada tanggal 6 Desember 2052 dengan jarak 356.424.

Alhamdullillah, saya masih sempat untuk mengabadikan fenomena tersebut pada tanggal 13 November 2016 sekitar jam 19.30. Dengan menggunakan kamera Nikon P900, foto-foto dibawah ini diambil di depan rumahkawasan Bantarjati Permai Bogor. Tidak tahu, apakah saya masih berkesempatan untuk melihat dan mengabadikan fenomenan yang sama di tahun 2034 nanti….subhannallah

 

Ramadhan musim panas di Switzerland

Jujur saja, sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dapat mengunjungi negara Swiss kembali. Memang saya sering melihat pegunungan Alpen dari atas pesawat, ketika dalam perjalanan pergi atau pulang dari beberapa negara Eropa. Pernah juga di tahun 1990an menginjakan kaki di kota Zurich, tapi hanya sebentar saja dan tidak sempat menikmati secara mendalam.

Kesempatan emas itu datang ketika saya, bersama dengan Ibu Cherryta Yunia dari KLHK, diundang oleh Sekretariat Ramsar Convention (Kovensi mengenai Lahan Basah) untuk menghadiri pertemuan Standing Committee ke-52 di kota Gland, Juli 2016. Karena delegasi Indonesia memutuskan untuk tinggal di Wisma KBRI Jenewa (alasan utamanya karena sedang shaum, sehingga lebih memudahkan untuk memperoleh makan buka dan sahur), maka ada kesempatan untuk menikmati perjalanan antara Jenewa dan Gland, dengan menggunakan kereta api selama sekitar 20 menit. Selama 8 hari kunjungan, hampir seluruh waktu dihabiskan di ruang pertemuan (karena memang itu tujuan perjalanan), bahkan pada hari sabtu dan minggu. Kebetulan pada hari sabtu terakhir ada kesempatan setengah hari untuk berkunjung ke kota Montreux. Selain itu, karena waktu matahari terangnya berlangsung hingga hampir jam 10 malam, maka jadi ada kesempatan untuk berjalan kaki dari pusat kota Jenewa menuju penginapan, sambil menunggu ifthar.

Catatan berikut ini adalah sekedar apa yang bisa saya lihat di sepanjang perjalanan. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak sempat untuk masuk ke museum atau lokasi wisata. Paling-paling hanya memanfaatkan tongsis untuk bernarsis di depan pintu gerbangnya saja. Lumayan lah, ada yang bisa diceritakan, dan mudah-mudahan insya Allah bisa kembali datang di lain waktu. Baca lebih lanjut

Cerita Wisuda 04 Agustus 2016

… graduation day of my daughter at the Department of Anthropology, Padjadjaran State University

… tak terasa, sepertinya baru kemarin ketika si Sulung berteriak kegirangan ketika namanya ada di koran, diantara deretan nama-nama indah yang berhasil menembus bangku perguruan tinggi negeri

… sepertinya, baru kemarin kami kembali ke Jatinangor, setelah hampir 25 tahun ditinggalkan, menemani si Kaka mencari tempat kost untuk menimba ilmu di Jurusan Antropologi UNPAD

… sepertinya, baru saja kemarin ketika dia minta izin untuk melakukan penelitian di hutan Kalimantan Timur

… bahkan, rasanya baru kemarin ketika 20an tahun yang lalu si bayi Usi saya gendong untuk menghadiri wisuda Ibunya

Dan sekarang, si bayi sulung itu hadir di tempat yang sama untuk wisudanya sendiri. Tentu ada rasa haru dan bangga sebagaimana yang dirasakan oleh orang tua lainnya.
Ya Allah, ya Rabb, Maha Penguasa Ilmu dan Kehidupan, terima kasih atas kemurahanMu untuk memberikan sedikit ilmu untuk anak hamba. Beri anak hamba kekuatan untuk membawa ilmu yang Kau berikan, untuk kebesaran agamaMu, negara dan keluarganya. Berkahilah hidupnya dan kuatkan kami untuk membimbing dan memberinya dukungan… kabulkan ya Rabb.

Risalah 212

….Tentang 212 yang kemarin itu, tak ada kata terbaik yang dapat menggambarkan perasaan dan suasana batin. Semua terasa indah, semua terasa sejuk, dan semua terasa hangat….

Duh, dada terasa ingin segera mengeluarkan tangis ketika bersatu dengan lautan saudara seiman, yang dengan senyum mengembang bersatu suara mengalunkan takbir menyanjung Sang Penguasa langit dan bumi, dan shalawat untuk manusia teragung yang dilahirkan ke dunia….

dscn4475dscn4487Dan, sekat itu akhirnya runtuh juga, ketika air mata bercampur air hujan rahmat, lalu tangis mengiringi takbir rakaat pertama shalat Jum’at….saudaraku, nikmat sekali, tangis yang teramat sulit teraih ketika bergelimang dalam kesibukan dunia…

dscn4485dscn4492-smallSaudaraku, ada suasana wukuf di padang Arafah yang terbawa disini, ketika seolah tak ada sekat bicara do’a dengan Sang Pembolak balik hati….ada suasana tawaf ketika berjejal penuh persaudaraan dengan saudara seiman dan ada hentakan keras kedalam hati untuk meneguhkan niat kenapa ada disini…

Masya Allah, ternganga saya ketika Ibu-ibu menawarkan kue dan makanan kalau-kalau ada saudaranya yang belum sarapan….si Bapa yang setengah memaksa agar air di botolnya dipakai untuk berwudhu…atau si Abang yang membagikan sajadah gratis untuk dipakai shalat…bukankah itu semua dengan satu tujuan untuk mengurangi kesulitan saudaranya, bukankah itu semua untuk hanya mengharap ridhoNya…

Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Dien