sistem reverse listing dalam perlindungan satwa

….kemarin berdiskusi mengenai sistem pelestarian alam di Indonesia. Tercetus gagasan lama mengenai sistem “reverse listing” atau yang dalam bahasa kita sering disebut sebagai pembuktian terbalik. Dalam sistem perlindungan saat ini, kaidah perlindungan satwa dan tumbuhan adalah semua jenis tidak dilindungi, kecuali yang dilindungi. Begitu pula dengan kawasan lindung, semua wilayah di Indonesia adalah tidak dilindungi, kecuali yang diumumkan sebagai kawasan yang dilindungi. Dengan sistem seperti ini, maka jenis-jenis yang baru ditemukan akan otomatis tidak dilindungi (kecuali kalau masuk dalam famili yang sudah dilindungi), dan pihak pelestari harus “berdarah-darah” untuk meneliti, mengkaji dan meyakinkan bahwa suatu jenis atau suatu kawasan adalah penting bagi kehidupan manusia dalam jangka panjang, sehingga harus dilindungi. Jika bisa meyakinkan dan mendapat dukungan, maka jenis atau wilayah tersebut dapat dilindungi. Tetapi jika tidak didukung, maka jenis atau suatu wilayah tidak dilindungi, dengan segala konsekuensinya, termasuk kemungkinan eksploitasi berlebih.

Dalam sistem “reverse listing”, polanya dirubah, semua jenis satwa dan tumbuhan dilindungi, kecuali yang tidak dilindungi. Dengan demikian, jenis-jenis yang baru ditemukan (yang notabene seharusnya langka) atau yang dipisah secara taksonomi, akan otomatis dilindungi. Dengan sistem seperti ini pula, maka pihak penggunalah yang harus meneliti, mengkaji dan meyakinkan bahwa suatu spesies atau wilayah tertentu adalah benar-benar layak untuk tidak dilindungi, dan kemudian dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dengan sistem ini, maka beban pembiayaan penelitian akan beralih kepada pihak pengguna, sementara anggaran dari pemerintah dapat ditujukan pada penelitian lain yang lebih berdaya guna, baik untuk pelestarian maupun pemanfaatan yang berkelanjutan…. Tentu akan banyak implikasinya, tetapi sebagai sebuah gagasan untuk Indonesia yang lebih baik, kenapa tidak dipikirkan…

By ecodien Posted in Eco

Ketika saya terpaksa bersurat kepada Bapak Presiden (03 & 04 Januari 2016)

…membaca berita bahwa Bapak Presiden kemarin membeli 190 ekor berbagai jenis burung, untuk dilepaskan pagi ini di halaman Istana Bogor. Dengan segala hormat atas niat baik Bapak Presiden, saya berharap kegiatan tersebut dibatalkan. Ada beberapa pertimbangan yang selayaknya dipertimbangkan sebelum burung dilepaskan, 1) apakah lokasi pelepasan aman? Tidak ada pemburu? 2) apakah jenis-jenis yang akan dilepaskan benar-benar jenis lokal? Bukan jenis pendatang yang akan membahayakan jenis-jenis lokal (invasive alien species)? 3) apakah individu burung yang dilepaskan benar-benar bebas dari penyakit, yang bisa mengganggu jenis-jenis liar? 4) apakah lokasi pelepasan bisa menyediakan makanan alami jenis-jenis burung yang akan dilepaskan? 5) memborong di pasar burung yang dilakukan oleh Bapak Presiden akan menimbulkan kesan bahwa itu hal yang layak dilakukan. Dikhawatirkan akan menginspirasi para pejabat lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga permintaan terhadap burung di pasar burung akan meningkat, dikhawatirkan juga kemudian pasokan dari alam liar juga akan meningkat. Mungkin akan lebih baik jika burung yang dilepaskan berasal dari penangkaran khusus di Istana, setelah melalui kajian oleh para ahli hidupan liar/Biolog. Mohon maaf atas kelancangan ini, saya hanya pencinta burung liar di alam liar. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberikan keberkahan kepada Bapak Presiden dan Staf dalam menjalankan amanah…. (terima kasih kepada Rudy Rudyanto , Colin Trainor dan teman-teman pencinta burung liar di alam liar atas ilmu dan kebersamaannya) (03 Januari 2016)

—-

…hanya bisa mengelus dada, karena ternyata Bapak Presiden kemarin tetap melepaskan burung, yang beliau beli dari pasar burung, di Kebun Raya Bogor, yang notabene adalah kawasan yang ditujukan untuk konservasi. Tantangan besar untuk para Pendidik di Perguruan Tinggi, para praktisi konservasi, Birokrat bidang pelestarian alam dan Bapak\Ibu yang memiliki akses informasi langsung kepada Bapak Presiden, untuk meyakinkan bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi.

Perlu terus disuarakan agar kondisi di Danau Sentani – Papua, Danau Bowu – Flores dan tempat-tempat lain tidak berulang lagi, dimana introduksi spesies bukan asli setempat kemudian menjadi “bencana genetik” bagi ekosistem asli setempat. Bagaimana jenis-jenis ikan asli yang beragam kemudian musnah terkalahkan oleh jenis-jenis mujair, nila dan ikan-ikan lain yang diintroduksi dengan mengatasnamakan niat baik untuk pelestarian lingkungan…..dan bagi para penggiat konservasi, para pelestari plasma nutfah, dan para pemilik ilmu pelestarian alam, sepertinya kita harus lebih sering menampar pipi sendiri karena kita sering sangat garang ketika berdiskusi membicarakan teori tetapi tidak ada suara ketika melihat hal yang tidak sesuai dengan ilmu yang kita miliki.

Isu keanekaragaman hayati memang tidak se-seksi dan se-menggema isu politik, tapi jika sang pemilik ilmu tak mampu menyuarakan “kebenaran ekologis” yang diyakininya, maka lalu siapa lagi yang akan melakukannya?

Bapak Presiden, mohon maaf jika pagi-pagi saya sudah mengganggu pikiran Bapak yang sangat sibuk dengan tugas-tugas kenegaraan. Mohon maaf juga jika saya telah mengganggu kesenangan dan niat baik mulia Bapak Presiden untuk pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia. Insya Allah itu akan dicatat sebagai amal kebaikan yang pahalanya mengalir terus. Semoga Allah SWT terus memberikan keberkahan untuk Bapak Presiden dan keluarga…mohon do’akan kami juga supaya bisa turut menjaga Indonesia sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang kami miliki (04 Januari 2016)

By ecodien Posted in Eco

A note from Asian Waterbird Census 2016, Sembilang National Park, South Sumatra

A team of Wetlands International Indonesia and Ministry of Environment and Forestry Staff visited Sembilang National Park, South Sumatra, during the 3rd week of January 2016. It was part of the 50th International Waterbird Census #IWC50 event which is celebrated by birdwatchers all over the world during the month of January. In Indonesia, the event is organized by Wetlands International Indonesia in collaboration with the Ministry of Environment and Forestry and Yayasan Lahan Basah Indonesia – YLBI (Indonesian Wetlands Foundation).

Sembilang National Park has one of the best remaining intact mangrove areas of 87,000 ha within the overall 200,000 hectares park area. It is home to a high wetland biodiversity, including no less than 150 bird species. The park is also serves as the internationally importance non-breeding (northern wintering) habitat for hundreds of thousands of migratory waterbirds as well as endangered and vulnerable resident waterbird species. Considering these importance roles, Sembilang National Park has been designated as a Ramsar Site and an East Asian – Australasian Flyway Partnership Network Site.

During our trips, several flocks of thousands of migratory shorebirds have been observed along the boat trip from Banyuasin delta to the park areas, mostly dominated by Common Redshank (Tringa totanus) and Terek Sandpiper (Xenus cinereus). A large population of the vulnerable Milky Stork (Mycteria cinerea) and Lesser Adjutant (Leptoptilos javanicus) were also observed at the same mudflat areas of the park, along with thousands of gull (Laridae) and tern (Sternidae) species. In addition, we observed a breeding population of Brahminy Kite (Haliastur indus), White-bellied Sea Eagle (Haliaeetus leucogaster) and Grey-headed Fish Eagle (Ichthyophaga ichthyaetus). Photo and videos identification is still underway to develop a more accurate species list of bird species observed during the census.

This survey has re-confirmed the international importance of Sembilang National Park for migratory as well as resident waterbirds. The information derived from this census is important for the management of the national park.

(Reported by Yus Rusila Noor and Ragil Satriyo Gumilar)

By ecodien Posted in Eco

…kapan Anda bangga sebagai orang Indonesia

….pernahkah anda benar-benar merasa bangga sebagai orang Indonesia? Kapan anda benar-benar tulus dari dalam hati berujar, “Saya orang Indonesia”? Beberapa kejadian atau suasana yang membuat saya bangga atau benar-benar merasa sebagai orang Indonesia, diantaranya:

1) Ketika turut menyanyikan lagu Indonesia Raya ditengah komunitas internasional, di Kedutaan Indonesia atau di suatu acara di luar negeri…..rasanya merinding bulu kuduk. Kebayang mereka yang berhasil meraih medali atau penghargaan internasional;
2) Ketika berkunjung ke beberapa negara Afrika, dan orang-orang di desa (terutama para warga senior) selalu menyapa, “Apa kabarnya Soekarno?”….hmmm, nama baik tak lekang oleh waktu;
3) Ketika diundang sebagai satu-satunya pembicara dari Indonesia dalam pertemuan perubahan iklim PBB (UNFCCC). Dengan spontan, di awal presentasi saya sampaikan bahwa, “Saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang berbicara tentang Indonesia, negara saya sendiri”…..rasanya plong banget, meskipun kemudian banyak pertanyaan yang harus dijawab;
4) Ketika naik pesawat Garuda Indonesia tujuan luar, dengan semboyan World’s Best Economic Class Airline, dan melihat dan ngobrol dengan penumpang asing yang sangat puas dengan pelayanan awak pesawat….perjalanan panjang jadi lebih menyenangkan;
5) Ketika memberi ceramah di hadapan anak-anak muda/mahasiswa di beberapa negara Eropa dan Amerika, dimana kebanyakan mereka tidak kenal Indonesia. Puas rasanya melihat mereka terbengong-bengong mengetahui betapa kayanya alam Indonesia. Apalagi setelah presentasi mereka bilang tidak menyangka Indonesia sedekian besar, kaya dan beragam….Indonesia gitu lho;
6) Ketika membicarakan anak-anak muda Indonesia yang menunjukan prestasi luar biasa, dan berjuang keras untuk memperoleh prestasi tersebut. Akhir-akhir ini saya larut menikmati keberhasilan Joey Alexander dan Rio Haryanto;
7) Ketika berdebat dengan mereka yang baru sekali dua kali berkunjung ke negara tetangga, tetapi kemudian dengan lantangnya menjelek-jelekan dan menganggap remeh Indonesia dan menyanjung-nyanjung rumput tetangga yang seolah-olah jauh lebih hijau…..buat saya, Indonesia adalah tanah air beta, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bagaimana dengan Teman-teman? Kapan bangga sebagai orang Indonesia?

By ecodien Posted in Eco

Supermoon itu…

Istilah Supermoon merujuk kepada penampakan bulan di langit yang lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Para menyebutkan bahwa pada purnama itu bertepatan dengan posisi bulan yang paling dekat dengan bumi. Tentu tidak setiap saat fenomenan tersebut terjadi. Kabarnya saat terakhir bulan terdekat dengan bumi terjadi pada tahun 1948 yang lalu.

Fenomena supermoon ternyata kembali terjadi pada tanggal 13dan 14 November 2016, dengan puncaknya terjadi pada tanggal 14 November 2016, dimana bulan berada pada titik terdekat dengan bumi, kabarnya sekitar 356.508 km. Setelah itu, fenomena tersebut baru dapat dilihat kembali pada tanggal 25November 2034, sementara posisi bulan terdekat dengan bumi pada abadini akan terjadi pada tanggal 6 Desember 2052 dengan jarak 356.424.

Alhamdullillah, saya masih sempat untuk mengabadikan fenomena tersebut pada tanggal 13 November 2016 sekitar jam 19.30. Dengan menggunakan kamera Nikon P900, foto-foto dibawah ini diambil di depan rumahkawasan Bantarjati Permai Bogor. Tidak tahu, apakah saya masih berkesempatan untuk melihat dan mengabadikan fenomenan yang sama di tahun 2034 nanti….subhannallah

 

Ramadhan musim panas di Switzerland

Jujur saja, sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dapat mengunjungi negara Swiss kembali. Memang saya sering melihat pegunungan Alpen dari atas pesawat, ketika dalam perjalanan pergi atau pulang dari beberapa negara Eropa. Pernah juga di tahun 1990an menginjakan kaki di kota Zurich, tapi hanya sebentar saja dan tidak sempat menikmati secara mendalam.

Kesempatan emas itu datang ketika saya, bersama dengan Ibu Cherryta Yunia dari KLHK, diundang oleh Sekretariat Ramsar Convention (Kovensi mengenai Lahan Basah) untuk menghadiri pertemuan Standing Committee ke-52 di kota Gland, Juli 2016. Karena delegasi Indonesia memutuskan untuk tinggal di Wisma KBRI Jenewa (alasan utamanya karena sedang shaum, sehingga lebih memudahkan untuk memperoleh makan buka dan sahur), maka ada kesempatan untuk menikmati perjalanan antara Jenewa dan Gland, dengan menggunakan kereta api selama sekitar 20 menit. Selama 8 hari kunjungan, hampir seluruh waktu dihabiskan di ruang pertemuan (karena memang itu tujuan perjalanan), bahkan pada hari sabtu dan minggu. Kebetulan pada hari sabtu terakhir ada kesempatan setengah hari untuk berkunjung ke kota Montreux. Selain itu, karena waktu matahari terangnya berlangsung hingga hampir jam 10 malam, maka jadi ada kesempatan untuk berjalan kaki dari pusat kota Jenewa menuju penginapan, sambil menunggu ifthar.

Catatan berikut ini adalah sekedar apa yang bisa saya lihat di sepanjang perjalanan. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak sempat untuk masuk ke museum atau lokasi wisata. Paling-paling hanya memanfaatkan tongsis untuk bernarsis di depan pintu gerbangnya saja. Lumayan lah, ada yang bisa diceritakan, dan mudah-mudahan insya Allah bisa kembali datang di lain waktu.

Untuk mencapai Jenewa, saya dipesankan pesawat Garuda Indonesia tujuan Amsterdam. Cukup nyaman karena selain bangga menggunakan maskapai Indonesia, juga karena mereka membangunkan sekaligus menyediakan makan sahur. Perjalanan selama 13 jam non-stop Jakarta – Amsterdam tidak terlalu terasa karena bisa tidur dan kadang-kadang nonton berbagai hiburan di layar pribadi. Transit sekitar 4 jam di Schipol, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan KLM Fokker 100, pesawat yang sempat populer di Indonesia ketika masih ada Sempati Air. Hanya diperlukan sekitar 1 jam untuk kemudian sampai di Jenewa, yang merupakan pintu masuk Swiss. Karena merupakan bagian dari negera-negara Schengen, maka pendatang disini tidak lagi diperiksa melalui pintu imigrasi, karena sebelumya urusan imigrasi telah diselesaikan di bandara Schipol. Disini hanya mengambil bagasi dan langsung keluar.

Kesan pertama ketika pertama kali menjejakan kaki di jalanan di kota Jenewa adalah asri, bersih, dan lengang. Yang terakhir mungkin karena kami mendarat hari Sabtu, dimana sebagian besar masyarakat sedang menikmati hari libur. Selama kunjungan di Swiss ini, kami tinggal di rumah yang dikelola oleh Pak Toto dan Bu Nur Toto, Staf Perwakilan Tetap RI untuk PBB di Jenewa. Rumah yang kami tempati tidaklah terlalu besar tapi sangat asri seperti kastil dalam cerita Haidi, dan didalamnya sangat bernuansa Indonesia, lengkap dengan tayangan streaming sinetron dan lantunan lagu-lagu dangdut dari TV Indonesia. Saya sungguh sangat beruntung bisa tinggal disini karena sangat dimudahkan untuk menjalankan ibadah shaum. Selain makanan full Indonesia (rendang, lodeh, kerupuk, sambal, kolek, dan teman-temannya) untuk ifthar dan sahur, kami juga bisa melaksanakan shalat berjamaah bersama tuan rumah dan tamu lain. Kebetulan setiap Ramadhan pihak Kedutaan memiliki program mengundang Ustadz untuk membimbing pelaksanaan ibadah Ramadhan. Kali ini saya sangat beruntung lagi karena Ustadz Amri Fatmi Siti Ruhayya, orang Aceh yang merupakan kandidat Doktor di Universitas Al Azhar, Kairo, mau berbagai kamar dengan saya. Beliau juga yang memimpin shalat berjamaah dan memberikan tausyiah setelah shalat. Sangat tidak terbayangkan bisa ikut pesantren kilat di negara yang tidak dikenal kental keislamannya.

Melaksanakan shaum Ramadhan pada musim panas adalah merupakan tantangan tersendiri, terutama secara fisik. Kami biasanya mulai bangun jam 2.30 dan punya waktu sekitar satu jam untuk ke kamar mandi dan bersantap sahur. Mendekati jam 04.00 sudah mulai menjalankan shalat shubuh berjamaah, untuk kemudian disambung dengan kultum dan belajar ngaji. Sekitar jam 05.00 bisa kembali tidur sejenak, untuk kemudian bangun lagi jam 06, karena harus mandi dan bersiap-siap mengejar bus jam 07.00. Untuk ifthar, biasanya mendekati jam 10 malam, jadi total waktu shaumnya sekitar 18 jam. Memang waktu berangkat dari Bogor saya sudah meniatkan kalau bisa ingin shaum, tapi kalaupun tidak bisa maka sekuatnya saja. Alhamdullillah, dengan cuaca yang relatif sejuk untuk suasana musim panas, serta disibukan oleh pertemuan serta perjalanan yang cukup jauh ke lokasi pertemuan, ternyata kami bisa menamatkan shaumnya selama di perjalanan.

Perjalanan dari rumah menuju kota Gland dilakukan dengan menggunakan bis gandeng yang sangat nyaman, dimulai dari halte OMS (singkatan bahasa Perancis untuk WHO – Badan Kesehatan Dunia), karena kebetulan rumah yang ditinggali tepat berada di depan markas WHO. Tujuan bis adalah menuju stasiun KA, yang kemudian akan membawa menuju kota Gland, selama sekitar 20 menit. Pembelian tiket dilakukan di mesin yang tersedia setiap halte. Harga tiket disesuaikan dengan zona tujuan yang akan kita tempuh.

Hari minggu, pertemuan hari pertama dimulai. Ada kesempatan untuk menikmati perjalanan menggunakan mobil menelusuri country side antara Jenewa dan Gland. Ingatan saya menerawang ke perjalanan antara Cianjur menuju Bogor melewati wilayah Puncak, tapi pada awal tahun 1980an, ketika tidak terlalu rame. Sungguh-sungguh tempat yang sepertinya sangat nyaman untuk beristirahat, dengan bentangan lahan pertanian anggur, dibentengi dengan gunung-gunung kokoh di belakangnya. Sebenarnya kondisi alam di kita tidaklah kalah, atau bahkan banyak yang lebih indah, hanya mungkin kebersihan yang luar biasa dan tidak hadirnya gubuk-gubuk tempat jualan serta hampir tidak adanya spanduk-spanduk yang bergelantungan di tiang listrik adalah merupakan pembeda. Terkait kebersihan, teman dari Kedutaan bilang bahwa sepertinya masyarakat Swiss sangat terobsesi dengan kebersihan, dan itu saya buktikan sendiri, dimanapun, bahkan di toilet pinggiran kota semua sama bersihnya dengan di kota. Saya perhatikan, mungkin karena kualitas materialnya yang jempolan, sehingga tidak ada tutup closet yang terbuat dari pelastik KW mudah tergores-gores. Juga keran metal yang kokoh dan tidak bocor…jika hal-hal kecil seperti itu diperhatikan, saya sangat yakin bahwa jalur Puncak, jalur Sibolangit di Sumut, Kelok Ampe-ampe (?) menjelang Bukit Tinggi atau hamparan padang rumput di Flores dan Sumba akan jauh lebih menarik…

Danau Jenewa

Salah satu bentang alam yang menjadi kebanggan masyarakat kota Jenewa atau Swiss secara keseluruhan adalah Dana Jenewa. Danau yang dalam bahasa Perancis disebut Lac Leman tersebut luas permukaannya mencapai lebih dari 580 km2, membentang di dua negara, Swiss dan Perancis, dengan kedalaman rata-rata mencapai 154 meter. Di bagian Swiss, danau ini dikelilingi oleh kota Jenewa, Lausanne, Montreux dan Vevey, sementara di wilayah Perancis berbatasan dengan kota Evian dan Thonon.

img_6228 img_6269 img_6270 img_6271 img_6316 img_6335 img_6338 img_6386 img_6389 img_6408 img_6437 img_6445
img_6490

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

img_6449

 

 

 

 

 

 

Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa / Palais des Nations

Pada tahun 1946, telah disepakati adanya perjanjian untuk menyerahkan asset dari Liga Bangsa-bangsa (League of Nations) kepada organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Organization). Diantara yang diserahterimakan adalah bangunan Palais des Nations. Ketika markas besar PBB disepakati berada di New York, maka pada tahun 1966 disetujui kantor PBB untuk Eropa yang berada di Palais des Nations, Jenewa. Tempat ini kemudian menjadi pusat untuk berbagai pertemuan diplomatic serta berbagai pertemuan lainnya, dengan membawa semangat kota Jenewa yang telah menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa sejak tahun 1920.

Karena prinsip kenetralan negaranya, Swiss hanya menjadi Permanent Observer di PBB. Kondisi tersebut berubah menyusul hasil referendum yang diadakan pada bulan Maret 2002, dan kemudian menjadikan Swiss sebagai negara anggota PBB ke-190 pada tanggal 10 September 2002.

Bangunan PBB terbuka untuk umum, dan setiap tahun sekitar 115.000 pengunjung dating melihat secara langsung, dan dipandu selama 1 jam dengan lebih dari 15 bahasa pengantar.

Bergantung kepada kondisi penggunaan ruangan, beberapa bagian yang dapat disaksikan oleh pengunjung adalah diantaranya:

  • Ruang The Human Rights and Alliance of Civilizations yang dirancang oleh Miquel Barcelo
  • The Salle des Pas Perdus yang memiliki monumen untuk memperingati penjelajahan ruang angkasa
  • The Assembly Hall, yang merupakan ruang terbesar
  • The Council Chamber, tempat dilangsungkannya berbagai negosiasi penting, dengan lukisan mural oleh Jose Maria Sert
  • Berbagai hadiah yang diberikan oleh berbagai negara untuk kantor PBB di Jenewa.

Selama kunjungan, Pemandu akan memberikan penjelasan mengenai acara yang sedang berlangsung saat ini, serta sejarah dari Palais des Nations. Kantor PBB dapat dikunjungi oleh umum selama hari kerja (Senin – Jum’at) dari jam 10.00 – 12.00 dan 14.00 -16.00. Pada bulan April – Juni juga buka pada hari Sabtu. Tiket masuknya 12 Frank untuk pengunjung dewasa, 10 Frank untuk Mahasiswa dan Warga Senior serta 7 Frank untuk anak-anak antara 6 – 18 tahun. Tarif potongan sebesar 10 Frank untuk rombongan minimum 20 orang dewasa.

Broken Chair

Broken Chair adalah sebuah monumen yang boleh jadi saat ini menjadi icon untuk alun-alun kota Jenewa. Terletak di seberang markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Eropa, atau dikenal sebagai Palais de Nations, monumen ini berbentuk kursi raksasa bercat merah setinggi sekitar 12 meter dengan salah satu diantara empat kakinya bunting berujung rusak. Monumen ini dirancang oleh seorang artis Swiss bernama Daniel Berset dan dibuat oleh seorang tukan kayu bernama Louis Geneve atas inisitaif dari LSM Handicap International. Pada awalnya, monumen ini diletakan di alun-alun pada tahun 1997 sebagai penanda dukungan terhadap diterapkannya perjanjian untuk pelarangan penggunaan ranjau darat atau biasa disebut Ottawa Treaty. Pada saat itu, rencananya monumen tersebut hanya akan dipasang selama 3 bulan saja, namun kemudian akhirnya dipajang hingga saat ini karena masih ada negara-negara yang tidak mau meratifikasi perjanjian tersebut. Kursi dengan salah satu kaki yang rusak seolah menggambarkan kondisi yang dialami oleh para korban ranjau darat, yang sebagian besar adalah merupakan penduduk sipil.

Pada saat saya melintasinya tanggal 13 Juni 2016, kursi tersebut masih ditutupi selubung, mungkin karena sedang direnovasi. Alhamdullillah, beberapa hari kemudian selubungnya dibuka dan bisa melihat penampakan utuhnya. Sebagai sebuah monumen, sebagaimana biasa, lokasi ini banyak dikunjungi oleh para turis untuk sekedar berfoto-foto. Di sekitarnya terdapat beberapa poster yang menjelaskan makna dan proses pembuatannya.

Patung Mahatma Gandhi

Boleh jadi, Mahatma Gandhi adalah merupakan salah satu tokoh dunia yang paling sering dipatungkan. Sosok tubuh Sang penganjur perdamaian ini dapat ditemukan di beberapa kota besar dunia, termasuk diantaranya di kota Jenewa, Swiss. Disini patung Mahatma Gandhi dapat ditemukan diantara rerimbunan pohon yang terletak di kompleks Taman Ariana. Patung tersebut diresmikan pada tanggal 14 November 2007 oleh Duta Besar India, Pejabat Kementerian Luar Negeri Swiss dan Walikota Jenewa. Patung dipasang sebagai hadiah dari pemerintah India untuk pemerintah kota Jenewa yang telah aktif mempromosikan perdamaian, harmoni dan persahabata, juga merupakan misi yang diusung oleh Mahatma Gandhi selama beliau masih hidup. Pada saat yang bersamaan, pembukaan selubung patung Gandhi juga merupakan bagian dari perayaan ke-60 ulang tahun Treaty of Amity yang dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1948 antara India dan Swiss.

Museum Ariana

Kota Jenewa kaya akan berbagai museum, baik terkait seni maupun sejarah. Salah satu museum yang sempat saya lewati dalam perjalanan dari stasiun kereta api menuju penginapan di Wisma Indonesia (daerah Appia) adalah Museum Ariana. Bangunan museum ini terletak di sekitar komplek markas PBB, dan terlihat menonjol karena bentuknya yang khas dan terkesan kuno.  Bangunan tersebut dibuat antara tahun 1877 hingga 1884 oleh penduduk Jenewa yang bernama Gustave Revilliod. Beliau memerintahkan untuk membangun bangunan bergaya arsitektur Neo-klasik dan Barok baru untuk menyimpan koleksi seninya. Nama “Ariana” sendiri disematkan untuk menghormati Ibunya.

Saat ini, Museum Ariana menjadi rumah bagi sekitar 20.000 buah keramik yang berasal dari abad ke-12, yang dikumpulkan dari Swiss sendiri, negara-negara Eropa lain, Timur jauh dan Timur dekat. Museum ini juga menjadi tempat International Academy of Ceramics yang sejauh ini memiliki sekitar 400 anggota di seluruh dunia.

Festival Marching Band Nasional

Kegiatan ini berlangsung di kota Montreux, Swiss, dimana jalan utama ditutup untuk keperluan tim-tim marching band berlaga di sepanjang jalan tersebut. Setiap tim beranggotakan sekitar 50 orang yang terdiri dari campuran anak-anak muda dan warga senior. Di bagian depan, seorang warga Senior biasanya memegang Palagan dari wilayah yang diwakilinya. Kostum mereka sangat beragam, berwarna-warni, campuran antara seragam modern dan tradisional. Ribuan masyarakat menyaksikan pertunjukan di sepanjang jalan yang juga merupakan trotoar di depan deretan toko-toko souvenir. Ini mengingatkan saya pada perayaan tujuh belasan tempo dulu dimana masyarakat tumplek blek di jalanan untuk melihat berbagai festival. Terlihat bagaimana banyak warga Senior yang benar-benar menikmati suasan di pinggir jalan, sambil kadang menikmati minuman dan makanan ringan di cafe-cafe pinggir jalan.

Dari sekian banyak penonton, ternyata tidak ada satupun yang menggunakan tongsis untuk acara foto-foto, tapi kalau yang foto-foto sendiri atau barengan sih banyak juga. Saya sempat berpikir bahwa penggunaan tongsis adalah terlarang atau gak sopan, tapi ternyata setelah saya nekad juga pake, banyak peserta yang malah ikut-ikutan berfoto ria di belakang. Jadi kesimpulan saya, sepertinya tongsis belum masuk kesini (daripada pusing mikirin kenapa)

Melihat Kota Montreux

Montreux adalah salah satu kota di Swiss yang sangat kental nuansa musiknya. Mungkin para penikmat jazz sangat kenal dengan Montreux Jazz Festival yang diadakan setiap bulan Juli. Ajang musik yang seolah telah menjadi kiblat music jazz dunia tersebut tahun ini diselenggarakan dari tanggal 1 – 16 Juli 2016, sekaligus menandai perayaan emas ke-50, yang dihadiri oleh banyak pemusik jazz kondang, seperti Herbie Hancock, Al Jarreau dan John McLaughlin. Festival yang diselenggarakan di sepanjang pinggiran danau Jenewa tersebut menyajikan hiburan gratis yang bisa disaksikan di tempat terbuka, atau pertunjukan berbayar di ruangan tertentu. Untuk ukuran orang Indonesia, mungkin agak lumayan juga karcis yang harus ditebus, dengan harga terendah mencapai 60 Frank (sekitar Rp.900.000) hingga sekitar 450 Frank untuk satu kali pertunjukan. Kalaupun mau membeli tiket terusan selama festival, dapat dibeli dengan harga sampai 1.420 Frank untuk 1 orang atau 2.000 Frank untuk 2 orang.

Tidak hanya musisi jazz, bahkan musisi rock juga banyak yang tertarik dengan keasrian dan ketenangan yang ditawarkan oleh kota Montreux dan danau Jenewa serta gugusan gunung bersalju di latar belakangnya. Freddy Mercury dan Queen juga pernah tinggal dan merekam albumnya di kota Montreux. Tidak kurang dari 7 album mereka buat selama kurun waktu 1979 hingga 1996, termasuk album terakhirnya “Made in Heaven”. Saking kesengsemnya dengan kota Montreux, Freddy Mercury bahkan berkata, “Ïf you want peace of soul, come to Montreux”. Untuk mengenang kehadiran group rock legendaris tersebut, kemudian didirikan patung tembaga dari Freddy Mercury yang sedang mengacungkan tangan kanan ke langit dan tangan kiri memegang mic. Patung yang berdiri menghadapi danau Jenewa tersebut nampaknya kemudian menjadi semacam icon untuk kota Montreux dan menjadi tujuan para wisatawan. Bukan hanya itu, di sepanjang boulevard pertokoan ada juga beberapa toko yang menjual pernak-pernik tentang Queen.

Jika kemudian saya ditanya mengenai kota-kota terasri untuk tinggal, mungkin Montreux bisa masuk dalam daftar teratas, meskipun untuk ukuran saya akan terasa sangat mahal untuk tinggal disana….

Cerita Wisuda 04 Agustus 2016

… graduation day of my daughter at the Department of Anthropology, Padjadjaran State University

… tak terasa, sepertinya baru kemarin ketika si Sulung berteriak kegirangan ketika namanya ada di koran, diantara deretan nama-nama indah yang berhasil menembus bangku perguruan tinggi negeri

… sepertinya, baru kemarin kami kembali ke Jatinangor, setelah hampir 25 tahun ditinggalkan, menemani si Kaka mencari tempat kost untuk menimba ilmu di Jurusan Antropologi UNPAD

… sepertinya, baru saja kemarin ketika dia minta izin untuk melakukan penelitian di hutan Kalimantan Timur

… bahkan, rasanya baru kemarin ketika 20an tahun yang lalu si bayi Usi saya gendong untuk menghadiri wisuda Ibunya

Dan sekarang, si bayi sulung itu hadir di tempat yang sama untuk wisudanya sendiri. Tentu ada rasa haru dan bangga sebagaimana yang dirasakan oleh orang tua lainnya.
Ya Allah, ya Rabb, Maha Penguasa Ilmu dan Kehidupan, terima kasih atas kemurahanMu untuk memberikan sedikit ilmu untuk anak hamba. Beri anak hamba kekuatan untuk membawa ilmu yang Kau berikan, untuk kebesaran agamaMu, negara dan keluarganya. Berkahilah hidupnya dan kuatkan kami untuk membimbing dan memberinya dukungan… kabulkan ya Rabb.

Risalah 212

….Tentang 212 yang kemarin itu, tak ada kata terbaik yang dapat menggambarkan perasaan dan suasana batin. Semua terasa indah, semua terasa sejuk, dan semua terasa hangat….

Duh, dada terasa ingin segera mengeluarkan tangis ketika bersatu dengan lautan saudara seiman, yang dengan senyum mengembang bersatu suara mengalunkan takbir menyanjung Sang Penguasa langit dan bumi, dan shalawat untuk manusia teragung yang dilahirkan ke dunia….

dscn4475dscn4487Dan, sekat itu akhirnya runtuh juga, ketika air mata bercampur air hujan rahmat, lalu tangis mengiringi takbir rakaat pertama shalat Jum’at….saudaraku, nikmat sekali, tangis yang teramat sulit teraih ketika bergelimang dalam kesibukan dunia…

dscn4485dscn4492-smallSaudaraku, ada suasana wukuf di padang Arafah yang terbawa disini, ketika seolah tak ada sekat bicara do’a dengan Sang Pembolak balik hati….ada suasana tawaf ketika berjejal penuh persaudaraan dengan saudara seiman dan ada hentakan keras kedalam hati untuk meneguhkan niat kenapa ada disini…

Masya Allah, ternganga saya ketika Ibu-ibu menawarkan kue dan makanan kalau-kalau ada saudaranya yang belum sarapan….si Bapa yang setengah memaksa agar air di botolnya dipakai untuk berwudhu…atau si Abang yang membagikan sajadah gratis untuk dipakai shalat…bukankah itu semua dengan satu tujuan untuk mengurangi kesulitan saudaranya, bukankah itu semua untuk hanya mengharap ridhoNya…

Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Dien

Boy Choir…mengingatkan pada perbedaan antara mendidik dengan mengajar

Perjalanan dengan KLM dari Jakarta menuju Amsterdam, lebih dari 13 jam. Waktu yang cukup panjang untuk melakukan banyak hal: menyelesaikan pekerjaan dan presentasi yang tidak selesai-selesai, baca-baca tulisan ringan yang selalu tak kesampaian ketika di rumah, atau menikmati puluhan hiburan film yang tersedia di gawai hiburan pribadi di masing-masing kursi. Akhirnya tak ada satupun yang dilakukan, karena rupanya tidur menjadi pilihan yang paling logis. Tapi senikmat-nikmatnya tidur sambil duduk, tentu tak ada kelelapan itu. Empat jam terakhir, sebelum mendarat, akhirnya bisa juga menonton film, dan diantara deretan puluhan film terbaru, pilihan akhirnya jatuh pada film Boy Choir. Tidak ada alasan khusus kenapa memilih film itu, hanya saja, dari gambar posternya, saya sudah bersiap untuk menonton kisah sedih di awal, berjuang keras atau menemukan sesuatu yang mengubah hidup, dan akhirnya happy ending…ya semacam itulah. Satu-satunya bintang yang saya kenal di film itu hanya Dustin Hoffman, yang tentu tak usah dijelaskan siapa dia. Baca lebih lanjut

Mengenal “House of Indonesia”, surga belanja di Jakarta

Salah satu kenikmatan yang biasa dialami oleh seorang traveler ketika melakukan perjalanan adalah saat ketika berburu oleh-oleh alias cendera mata dari wilayah yang kita kunjungi. Idealnya tentu kita bisa memperoleh cinderamata tersebut langsung di lokasi yang dikunjungi, karena nilai nostalgianya mungkin lebih tinggi. Selain itu, perburuan langsung di lokasi biasanya juga lebih mudah karena di daerah tersebut tersedia lokasi khusus yang sudah dikenal menyediakan oleh-oleh khas di daerah tersebut. Namun kadang kita tidak selalu bisa memperoleh cindera mata langsung di lokasi, baik karena keterbatasan waktu yang dimiliki maupun tidak mau ribet untuk membawa-bawa belanjaan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi “darurat” biasanya bandara kemudian menjadi pilihan terakhir untuk belanja, meskipun bagi kebanyakan orang harga-harga di bandara cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di pasaran.

Pilihan lain yang bisa diambil adalah dengan mengunjungi toko-toko tertentu di Ibu Kota negara sebelum terbang meninggalkan negara tersebut. Itulah makanya para traveler sangat mengenal lokasi-lokasi yang banyak menjual oleh-oleh khas suatu negara. Bagaimana dengan di Jakarta? Terus terang, kalau saya dimintai untuk mengantar teman dari mancanegara untuk membeli cinderamata khas Indonesia, saya suka agak-agak bingung mau dibawa kemana? Pilihan yang biasa diambil paling-paling adalah Sarinah atau Pasar Raya. Agak sulit untuk mengajak ke lokasi one stop shopping yang menjual oleh-oleh khas dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk makanan. Baca lebih lanjut

Ketika waktu itu kami berada di Mina

suasana melempar Jumrah

Berita duka itu kembali datang lagi dari pelaksanaan ibadah haji di Mina, Arab Saudi. Pada tanggal 24 September 2015 terjadi musibah sebelum pelaksanaan jumrah. Dilaporkan hampir 800 orang jamaah haji, in sya Allah, menjadi syuhada dimana 59 orang diantaranya berasal dari Indonesia (data tanggal 1 Oktober 2015).

Saya tidak akan menanggapi kejadian tragis yang telah beberapa kali terulang tersebut, karena sudah sangat banyak tulisan mengenai hal tersebut. Disini saya hanya ingin berbagi pengalaman ketika saya dan Istri melaksanakan ibadah melempar jumrah sebagai bagian dari ritual ibadah haji yang kami jalani pada tahun 2008.
Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Dien

Bio-Rights mechanism on the Coastal Restoration Works

The Fishers of many villages in north coast of Java has been experienced with the lost or reducing sources of incomes from fishery sector, mainly due to the destroyed coastal zone resulted from the disappearance of natural mangrove belts. Current studies in the areas indicated that more destructions will remained to be continued further inland, and creating even more devastating loss (such as settlements and other infrastructures) unless coordinated and measured actions are rapidly taken.  Other studies, however, also highlighted that large potential are still occur to ecologically restore the coastal condition through the establishment of more favorable habitat condition to bring the mangrove ecosystem back, either naturally or through human intervention.

The recovered productive-mangrove ecosystem will provide the initial desired ecosystem services in about 10 – 20 years. They might re-provide both timber and non-timber forest products to contribute to the people’s livelihood. In the meantime, a shorter-term sustainable livelihood options are required for local communities, which both economically and ecologically suitable with the agreed overall longer-term restoration scenarios.

In some coastal villages, the revitalization of traditional aquaculture recognized as the best option for shorter-term livelihood improvement for local communities. In order to ensure that the sustainable livelihood improvement through the revitalization of aquaculture practices are having close linkage with the overall coastal restoration programme, the steps will be taken in accordance with the Bio-Rights mechanism. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

Pendekatan Bio-Rights dalam kegiatan restorasi lingkungan dan peningkatan mata pencaharian masyarakat (bersama Eko Budi Priyanto)

Dalam melaksanakan kegiatannya untuk membantu masyarakat lokal sekaligus melestarikan lahan basah, Wetlands International kerap kali menggunakan suatu pendekatan yang disebut dengan Bio-Rights. Kata tersebut bermakna pemberian hak kepada keanekaragaman hayati untuk menjalankan fungsinya dalam menyediakan jasa lingkungan. Dalam perkembangan selanjutnya, kata Bio-Rights digunakan sebagai suatu pendekatan mekanisme finansial inovatif untuk menangani permasalahan kemiskinan yang dikaitkan dengan isu kerusakan lingkungan, dengan cara memberikan dukungan bersyarat bagi masyarakat lokal. Pendekatan tersebut merupakan skema pembiayaan bagi masyarakat lokal sebagai kompensasi terhadap keterlibatan mereka dalam kegiatan pelestarian dan restorasi lingkungan. Gagasan dasarnya adalah dengan memberikan dukungan finansial secara langsung maupun tidak langsung, maka skema tersebut akan memungkinkan masyarakat lokal untuk meninggalkan kegiatan yang bersifat tidak berkelanjutan (misalnya eksploitasi hutan secara berlebihan), dan kemudian menggagas atau terlibat aktif dalam kegiatan lain yang menunjang pelestarian dan restorasi lingkungan (misalnya kegiatan penanaman mangrove di wilayah pesisir). Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

Senyum itu mengembang seiring membangun bersama alam (bersama Virgilius Nyudianto dan Eko Budi Priyanto)

Di suatu sore, awal tahun 2012, Pak Muhoring berdiri tercenung di pinggir pantai, memandangi hamparan pasir yang semakin hilang digerus abrasi akibat hempasan ombak. Pikirannya menerawang kembali ke sekitar 30 tahun yang lalu, ketika hamparan pasir masih terbentang sekitar 100 meter kearah pantai dari tempatnya berdiri saat ini. Rumah tetangganyapun masih kokoh berdiri diatas hamparan pasir tersebut. Hingga kemudian pada tahun 1992 gelombang besar tsunami menerjang Flores dan meluluhlantakan segalanya, menyapu bangunan rumah di pinggir pantai dan menerjang tegakan pohon di sekitarnya. Setelah tsunami berlalu, hamparan pasir kosong menjadi sasaran empuk terjadinya abrasi, dimana jumlah sedimen di pantai yang tergerus oleh gelombang dan arus lebih banyak dibandingkan jumlah sedimen yang dibawa oleh pasang surut dan disimpan di pantai. Masyarakat di sekitar pantai kemudian harus terbiasa dengan masuknya air laut jauh ke pemukiman, yang akan menjadi lebih buruk ketika terjadi cuaca ekstrim berupa hujan besar dan badai. Bencanapun kemudian menjadi ancaman sehari-hari bagi masyarakat, dan hilangnya infrastruktur jalan, rumah ibadah, serta fasilitasi umum lainnya semakin membayang di depan mata. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco

Ikan Ipung dan Perubahan Musim di Mata Masyarakat Sikka, Flores (bersama Didik Fitrianto)

Namanya cukup sederhana, “Ipung”. Itu adalah nama sejenis ikan yang kerap ditemukan di perairan sungai Kabupaten Sikka, Flores, khususnya di wilayah Desa Reroroja, Magepanda dan Done. Sesederhana namanya, ikan tersebut berukuran kecil, sekitar 3 – 5 sentimeter, atau kira-kira seukuran ikan teri. Bentuk badannya langsing memanjang, dengan latar tubuh berwarna coklat muda abu-abu bergaris hitam memanjang dari kepala hingga ekor serta sekitar 8 garis hitam lebih tebal melintang dari punggung kearah perut. Belum dapat dipastikan apa nama jenis ikan tersebut, hanya saja kalau membandingkannya dengan buku panduan ikan di Indonesia Barat dan Sulawesi (Kottelat et.al. 1993), sepertinya termasuk jenis Sicyopterus micrurus, atau setidaknya termasuk marga Sicyopterus.

Sekilas memang tidak ada yang terlihat istimewa dengan penampilan mereka. Sama seperti ikan-ikan kecil lainnya, mereka terlihat berenang menyusuri air sungai, atau menyelusup dibawah batu, umumnya menuju kearah hulu. Namun jika diamati lebih seksama, dan kemudian disandingkan dengan cerita yang berkembang di masyarakat setempat, barulah kemudian kita menyadari bahwa ada sesuatu yang laik untuk disimak dari kehadiran ikan-ikan tersebut di perairan sungai Kabupaten Sikka. Cerita tersebut tidak hanya menerangkan siklus perilaku ikan Ipung saja, tetapi lebih jauh dapat menjelaskan mengenai pengetahuan masyarakat lokal yang telah berkembang sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun di wilayah tersebut dalam menginterpretasikan kehadiran ikan dikaitkan dengan perubahan kondisi klimatis di sekitar mereka, terutama yang terkait dengan perubahan dari musim penghujan menuju musim kemarau. Baca lebih lanjut