boy choir

Boy Choir…mengingatkan pada perbedaan antara mendidik dengan mengajar

Perjalanan dengan KLM dari Jakarta menuju Amsterdam, lebih dari 13 jam. Waktu yang cukup panjang untuk melakukan banyak hal: menyelesaikan pekerjaan dan presentasi yang tidak selesai-selesai, baca-baca tulisan ringan yang selalu tak kesampaian ketika di rumah, atau menikmati puluhan hiburan film yang tersedia di gawai hiburan pribadi di masing-masing kursi. Akhirnya tak ada satupun yang dilakukan, karena rupanya tidur menjadi pilihan yang paling logis. Tapi senikmat-nikmatnya tidur sambil duduk, tentu tak ada kelelapan itu. Empat jam terakhir, sebelum mendarat, akhirnya bisa juga menonton film, dan diantara deretan puluhan film terbaru, pilihan akhirnya jatuh pada film Boy Choir. Tidak ada alasan khusus kenapa memilih film itu, hanya saja, dari gambar posternya, saya sudah bersiap untuk menonton kisah sedih di awal, berjuang keras atau menemukan sesuatu yang mengubah hidup, dan akhirnya happy ending…ya semacam itulah. Satu-satunya bintang yang saya kenal di film itu hanya Dustin Hoffman, yang tentu tak usah dijelaskan siapa dia. Baca lebih lanjut

Mengenal “House of Indonesia”, surga belanja di Jakarta

Salah satu kenikmatan yang biasa dialami oleh seorang traveler ketika melakukan perjalanan adalah saat ketika berburu oleh-oleh alias cendera mata dari wilayah yang kita kunjungi. Idealnya tentu kita bisa memperoleh cinderamata tersebut langsung di lokasi yang dikunjungi, karena nilai nostalgianya mungkin lebih tinggi. Selain itu, perburuan langsung di lokasi biasanya juga lebih mudah karena di daerah tersebut tersedia lokasi khusus yang sudah dikenal menyediakan oleh-oleh khas di daerah tersebut. Namun kadang kita tidak selalu bisa memperoleh cindera mata langsung di lokasi, baik karena keterbatasan waktu yang dimiliki maupun tidak mau ribet untuk membawa-bawa belanjaan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kondisi “darurat” biasanya bandara kemudian menjadi pilihan terakhir untuk belanja, meskipun bagi kebanyakan orang harga-harga di bandara cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di pasaran.

Pilihan lain yang bisa diambil adalah dengan mengunjungi toko-toko tertentu di Ibu Kota negara sebelum terbang meninggalkan negara tersebut. Itulah makanya para traveler sangat mengenal lokasi-lokasi yang banyak menjual oleh-oleh khas suatu negara. Bagaimana dengan di Jakarta? Terus terang, kalau saya dimintai untuk mengantar teman dari mancanegara untuk membeli cinderamata khas Indonesia, saya suka agak-agak bingung mau dibawa kemana? Pilihan yang biasa diambil paling-paling adalah Sarinah atau Pasar Raya. Agak sulit untuk mengajak ke lokasi one stop shopping yang menjual oleh-oleh khas dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk makanan. Baca lebih lanjut

Ketika waktu itu kami berada di Mina

suasana melempar Jumrah

Berita duka itu kembali datang lagi dari pelaksanaan ibadah haji di Mina, Arab Saudi. Pada tanggal 24 September 2015 terjadi musibah sebelum pelaksanaan jumrah. Dilaporkan hampir 800 orang jamaah haji, in sya Allah, menjadi syuhada dimana 59 orang diantaranya berasal dari Indonesia (data tanggal 1 Oktober 2015).

Saya tidak akan menanggapi kejadian tragis yang telah beberapa kali terulang tersebut, karena sudah sangat banyak tulisan mengenai hal tersebut. Disini saya hanya ingin berbagi pengalaman ketika saya dan Istri melaksanakan ibadah melempar jumrah sebagai bagian dari ritual ibadah haji yang kami jalani pada tahun 2008.
Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Dien
Surya Gemilang Group_2nd day_Yus (29)

Bio-Rights mechanism on the Coastal Restoration Works

The Fishers of many villages in north coast of Java has been experienced with the lost or reducing sources of incomes from fishery sector, mainly due to the destroyed coastal zone resulted from the disappearance of natural mangrove belts. Current studies in the areas indicated that more destructions will remained to be continued further inland, and creating even more devastating loss (such as settlements and other infrastructures) unless coordinated and measured actions are rapidly taken.  Other studies, however, also highlighted that large potential are still occur to ecologically restore the coastal condition through the establishment of more favorable habitat condition to bring the mangrove ecosystem back, either naturally or through human intervention.

The recovered productive-mangrove ecosystem will provide the initial desired ecosystem services in about 10 – 20 years. They might re-provide both timber and non-timber forest products to contribute to the people’s livelihood. In the meantime, a shorter-term sustainable livelihood options are required for local communities, which both economically and ecologically suitable with the agreed overall longer-term restoration scenarios.

In some coastal villages, the revitalization of traditional aquaculture recognized as the best option for shorter-term livelihood improvement for local communities. In order to ensure that the sustainable livelihood improvement through the revitalization of aquaculture practices are having close linkage with the overall coastal restoration programme, the steps will be taken in accordance with the Bio-Rights mechanism. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco
Surya Gemilang Group_2nd day_Yus (55)

Pendekatan Bio-Rights dalam kegiatan restorasi lingkungan dan peningkatan mata pencaharian masyarakat (bersama Eko Budi Priyanto)

Dalam melaksanakan kegiatannya untuk membantu masyarakat lokal sekaligus melestarikan lahan basah, Wetlands International kerap kali menggunakan suatu pendekatan yang disebut dengan Bio-Rights. Kata tersebut bermakna pemberian hak kepada keanekaragaman hayati untuk menjalankan fungsinya dalam menyediakan jasa lingkungan. Dalam perkembangan selanjutnya, kata Bio-Rights digunakan sebagai suatu pendekatan mekanisme finansial inovatif untuk menangani permasalahan kemiskinan yang dikaitkan dengan isu kerusakan lingkungan, dengan cara memberikan dukungan bersyarat bagi masyarakat lokal. Pendekatan tersebut merupakan skema pembiayaan bagi masyarakat lokal sebagai kompensasi terhadap keterlibatan mereka dalam kegiatan pelestarian dan restorasi lingkungan. Gagasan dasarnya adalah dengan memberikan dukungan finansial secara langsung maupun tidak langsung, maka skema tersebut akan memungkinkan masyarakat lokal untuk meninggalkan kegiatan yang bersifat tidak berkelanjutan (misalnya eksploitasi hutan secara berlebihan), dan kemudian menggagas atau terlibat aktif dalam kegiatan lain yang menunjang pelestarian dan restorasi lingkungan (misalnya kegiatan penanaman mangrove di wilayah pesisir). Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco
407A6308

Senyum itu mengembang seiring membangun bersama alam (bersama Virgilius Nyudianto dan Eko Budi Priyanto)

Di suatu sore, awal tahun 2012, Pak Muhoring berdiri tercenung di pinggir pantai, memandangi hamparan pasir yang semakin hilang digerus abrasi akibat hempasan ombak. Pikirannya menerawang kembali ke sekitar 30 tahun yang lalu, ketika hamparan pasir masih terbentang sekitar 100 meter kearah pantai dari tempatnya berdiri saat ini. Rumah tetangganyapun masih kokoh berdiri diatas hamparan pasir tersebut. Hingga kemudian pada tahun 1992 gelombang besar tsunami menerjang Flores dan meluluhlantakan segalanya, menyapu bangunan rumah di pinggir pantai dan menerjang tegakan pohon di sekitarnya. Setelah tsunami berlalu, hamparan pasir kosong menjadi sasaran empuk terjadinya abrasi, dimana jumlah sedimen di pantai yang tergerus oleh gelombang dan arus lebih banyak dibandingkan jumlah sedimen yang dibawa oleh pasang surut dan disimpan di pantai. Masyarakat di sekitar pantai kemudian harus terbiasa dengan masuknya air laut jauh ke pemukiman, yang akan menjadi lebih buruk ketika terjadi cuaca ekstrim berupa hujan besar dan badai. Bencanapun kemudian menjadi ancaman sehari-hari bagi masyarakat, dan hilangnya infrastruktur jalan, rumah ibadah, serta fasilitasi umum lainnya semakin membayang di depan mata. Baca lebih lanjut

By ecodien Posted in Eco
407A6413

Ikan Ipung dan Perubahan Musim di Mata Masyarakat Sikka, Flores (bersama Didik Fitrianto)

Namanya cukup sederhana, “Ipung”. Itu adalah nama sejenis ikan yang kerap ditemukan di perairan sungai Kabupaten Sikka, Flores, khususnya di wilayah Desa Reroroja, Magepanda dan Done. Sesederhana namanya, ikan tersebut berukuran kecil, sekitar 3 – 5 sentimeter, atau kira-kira seukuran ikan teri. Bentuk badannya langsing memanjang, dengan latar tubuh berwarna coklat muda abu-abu bergaris hitam memanjang dari kepala hingga ekor serta sekitar 8 garis hitam lebih tebal melintang dari punggung kearah perut. Belum dapat dipastikan apa nama jenis ikan tersebut, hanya saja kalau membandingkannya dengan buku panduan ikan di Indonesia Barat dan Sulawesi (Kottelat et.al. 1993), sepertinya termasuk jenis Sicyopterus micrurus, atau setidaknya termasuk marga Sicyopterus.

Sekilas memang tidak ada yang terlihat istimewa dengan penampilan mereka. Sama seperti ikan-ikan kecil lainnya, mereka terlihat berenang menyusuri air sungai, atau menyelusup dibawah batu, umumnya menuju kearah hulu. Namun jika diamati lebih seksama, dan kemudian disandingkan dengan cerita yang berkembang di masyarakat setempat, barulah kemudian kita menyadari bahwa ada sesuatu yang laik untuk disimak dari kehadiran ikan-ikan tersebut di perairan sungai Kabupaten Sikka. Cerita tersebut tidak hanya menerangkan siklus perilaku ikan Ipung saja, tetapi lebih jauh dapat menjelaskan mengenai pengetahuan masyarakat lokal yang telah berkembang sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun di wilayah tersebut dalam menginterpretasikan kehadiran ikan dikaitkan dengan perubahan kondisi klimatis di sekitar mereka, terutama yang terkait dengan perubahan dari musim penghujan menuju musim kemarau. Baca lebih lanjut

IMG_20150719_044540

Mudik mem-batu di sekitar Nusa Kambangan

Untuk pertama kalinya, tahun ini saya dan keluarga melakukan ritual mudik lebaran. Tujuannya adalah ke Cilacap, Jawa Tengah. Sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya kami juga rutin berkumpul di rumah orang tua di Cimahi, hanya saja karena jaraknya tidak terlalu jauh dan relatif tidak mengalami kemacetan serta cukup sering bolak-balik, jadi kami menganggap itu bukan bagian dari mudik.

Untuk mudik perdana ini saya belajar untuk merencanakan perjalanan jauh-jauh hari, yang bagi mudikers pro mungkin biasa saja. Diputuskan bahwa mudik akan dimulai pada H+1, karena harus sungkeman dengan orang tua di Bogor dulu, serta mengurusi pelaksanaan shalat iedul fitri di masjid komplek. Yang pertama dilakukan kemudian adalah rundingan keluarga mengenai moda transportasi apa yang akan digunakan. Pilihan pertama adalah menggunakan mobil pribadi, menelusuri jalur mudik selatan yang legendaris. Meskipun ini lebih menyenangkan dan praktis untuk jalan-jalan di tempat tujuan, namun sepertinya pilihan ini harus dikesampingkan dulu karena saya tidak cukup pede untuk nyetir disela-sela kemacetan, apalagi dalam kondisi rada ngantuk bales dendam i’tikaf di sepuluh hari ramadhan. Dalam kondisi normal saja setidaknya perlu 9 jam untuk menjalani jalur tersebut. Terakhir nyetir ke Cilacap untuk liburan awal tahun ini, kena masuk angin dan harus memperpanjang 2 hari untuk bisa istirahat mempersiapkan nyetir balik. Baca lebih lanjut

IMG_20150405_093157

Ketika kita kembali ke zaman batu

Bahwa demam batu akik sedang melanda Nusantara, nampaknya sudah pada mafhum. Tua, muda, laki-laki dan perempuan sudah tertulari dengan virus batu akik ini. Ada yang sekedar ikut-ikutan, ada yang diam-diam mulai menunjukan minat, dan tentu saja ada pula yang sudah termasuk kelompok die hard. Bagi kelompok yang terakhir ini, pantes atau tidak pantes, cocok atau tidak cocok, bagi mereka batu akik forever. Tidak cukup hanya dengan batu seukuran biji kedelai, batu seukuran telur puyuhpun bisa saja nangkring di jari kelingking, atau bahkan di jari tengah, telunjuk, jari manis dan jempol sekalian. Jangan lagi tanya pantes atau tidak pantes, bagi mereka, ya itu tadi, akik forever. Tak cukup hanya di jari tangan, bahkan para pria-pun banyak yang menggunakan liontin bermatakan batu akik. Dan tidak berhenti disitu, ada juga yang pakai arloji tapi penunjuk waktunya dicopot dan kemudian diganti dengan batu.

IMG_20150405_092138

Jakarta Gens Center atau yang sering dikenal sebagai Pasar Rawa Bening, tepat di depan sasiun KA Jatinegara

Jakarta Gens Center atau yang sering dikenal sebagai Pasar Rawa Bening, tepat di depan sasiun KA Jatinegara

Kalau ada kesempatan, cobalah berkunjung ke lapak tempat berjualan batu di pasar-pasar atau di trotoar keramaian. Kalau mau yang lebih adem, mungkin sesekali luangkan waktu untuk berkunjung ke mall yang menyediakan vendor batu akik, seperti Jakarta Gem Centre atau yang lebih dikenal sebagai pasar Rawa Bening, yang konon terbesar di Asia Tenggara. Sepertinya di kota-kota lain juga ada tempat sejenis, seperti pasar Devris di tempat saya tinggal, Bogor. Tidak perlu selalu diniatkan untuk membeli sesuatu, yang penting sejenak hilangkan sifat jaim anda, dan cobalah berbaur dengan pengunjung lainnya, dan nikmati celoteh mereka yang berbaku cerita mengenai batu akik. Kitapun akan mendapatkan pengetahuan baru yang menarik. Banyak cerita tentang gemology atau geologi umum dan juga certa geografi tempat batu-batu tertentu ditemukan.  Boleh jadi kita juga akan dengar cerita-cerita yang dibumbui mistis atau aneh-aneh. Kalau sudah begitu, jangan terlalu dipikirkan apakah cerita tersebut benar atau tidak, dan yang lebih penting jangan sampai terbawa pada hal-hal yang akan membawa kita pada syirik. Baca lebih lanjut

IMG_1355

Car Free Day, tak hanya untuk perbaikan lingkungan…..

Untuk memberikan kesempatan bagi lingkungan untuk memberikan nafas yang lebih segar serta melepaskan penghuni kota dari kebisingan dan hilir mudik kendaraan bermotor, beberapa kota telah menerapkan kegiatan “moratorium” kendaraan di jalan raya atau yang biasa disebut sebagai car free day. Kegiatan yang biasanya dilaksanakan pada hari minggu pagi di lokasi-lokasi jalan tertentu tersebut, pada dasarnya adalah melarang kendaraan bermotor, khususnya mobil, untuk melewati jalan tertentu pada waktu yang telah ditentukan. Tujuannya adalah agar udara di lokasi tersebut lebih bersih dari asap kendaraan bermotor, dan juga memberi ruang bagi warga masyarakat untuk dapat bergerak melakukan kegiatan di lokasi yang biasanya dipenuhi kendaraan bermotor.

Di kota Bogor, kegiatan car free day dilaksanakan setiap hari minggu pagi, mulai jam 06.00 hingga jam 09.00, bertempat di jalan Jalak Harupat sepanjang Kebun Raya, yang dimulai dari percabangan dengan jalan Padjadjaran di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor, terus hingga percabangan jalan Ir. H. Juanda dan jalan Sudirman atau di depan pintu masuk Istana Bogor dan kantor Polisi Militer. Jalan lain yang ditutup adalah jalan Pangrango di depan RRI Bogor serta jalan Salak di depan Taman Kencana menuju jalan Jalak Harupat . Baca lebih lanjut

IMG_9828 (Small)

Killing Fields, dan sehari penuh kengerian di penjara S-21

Lagu “Imagine” yang dilantunkan oleh John Lennon mengalun sayu mengiringi pertemuan dua kawan lama, dan menandai berakhirnya film “the Killing Fields”. Lagu tersebut seakan menyuarakan berbagai kegetiran perjalanan hidup manusia yang tersaji dalam  film  tersebut. Film tersebut memang telah berhasil mengangkat salah satu sisi kelam dari sejarah kehidupan manusia.

The Killing Fields sejatinya menggambarkan dengan cerdas kisah mengenai pentingnya keinginan untuk bertahan hidup dalam kondisi apapun dan tanggung jawab yang mengiringi pengambilan suatu keputusan yang dibalut dalam persahabatan dua orang manusia berbeda bangsa, yang secara fisik berasal dari dua bangsa yang letaknya berjauhan, Amerika dan Kamboja, dengan latar belakang situasi kekejaman selama rezim Khmer Merah berkuasa di Kamboja pada tahun 1975 – 1979. Mereka adalah Sydney Schanberg, seorang koresponden the New York Times di Kamboja, dan Dith Pran, seorang wartawan. Cerita untuk film tersebut diadaptasi dari sebuah memoir yang ditulis Sydney di Harian New York Times dan kemudian memberinya hadiah Pulitzer, The Death and Life of Dith Pran (Kematian dan Kehidupan Dith Pran). Baca lebih lanjut

IMG_9981 (Small)

Perjalanan fotografi di Angkor Wat, Siem Reap, Kambodja

Mendengar nama Angkor Wat sebenarnya sudah demikian lama, mungkin malah sejak zaman SD dulu ketika mendapat pelajaran sejarah. Komplek candi ini memang banyak diajarkan waktu kita mengenyam pendidikan dasar dulu. Saya tidak tahu, apakah sekarang masih diajarkan di sekolah kita.

Untuk generasi masa kini yang suka nonton film atau main game petualangan, nama Angkor Wat selintas bisa dilihat dalam film-nya Angelina Jolie, the Tomb Rider. Tergambar bersatunya kebesaran bangunan buatan manusia dengan kebesaran alam tumbuhan yang kemudian tumbuh mencengkeram sebagian bangunan-bangunan tua yang konon pernah sangat megah di zamannya.

Angkor adalah merupakan komplek arekeologi candi yang sangat luas.UNESCO menyebutkan bahwa komplek arkeologis tersebut memiliki luas hingga 400 km2, termasuk wilayah hutan yang mengelilinginya. Nama Angkor Wat sendiri sebenarnya hanya merupakan salah satu candi, diantara beberapa candi lainnya yang terkenal, seperti Angkor Thom, Candi Bayon, Banteay Srei dan Preah Khan serta sekitar 30an candi lainnya. Komplek ini di Kamboja sendiri dilindungi oleh peraturan perlindungan warisan Budaya dan alam serta peraturan kerajaan. Sementara di tingkat dunia, telah dimasukan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO. Baca lebih lanjut

… mengintip matahari diatas Borobudur

Punthuk Setumbu_Yogya_end Sept 2014 (94)aPunthuk Setumbu_Yogya_end Sept 2014 (63)Punthuk Setumbu_Yogya_end Sept 2014 (160)a

Perjalanan kali ini agak berbeda dengan perjalanan yang biasa saya lakukan sebelumnya. Kali ini perjalanan dilakukan secara spontan tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Sebenarnya sudah beberapa kali mengunjungi kota yang dulu sangat dikenal sebagai kota pelajar ini. beberapa tempat terkenal sudah pernah dikunjungi, dan biasanya direncanakan sebelum perjalanan dimulai, sehingga urusan akomodasi dan transportasi sudah selesai jauh sebelumnya. Dalam perjalanan ke Yogyakarta kali ini, ada keinginan yang sangat kuat untuk bisa memotret matahari tenggelam di Pantai Trisik. Dulu pernah kesana, tapi tidak sempat mengabadikannya dengan baik karena serba keburu-buru. Kali inipun rupanya keinginan tersebut harus kembali disimpan dalam-dalam karena urusan jadwal yang tidak memungkinkan untuk jalan sore hari. Baca lebih lanjut

kehidupan diatas tiang kampung Bajo

9 Torosiaje (18)_editKali ini, saya dapat kesempatan luar biasa untuk mengunjungi Kampung Masyarakat Bajo, Desa Torosiaje Laut, KabupatenPohuwato, Gorontalo, 11 September 2014. Ini adalah kunjungan pertama saya di lokasi ini, sebagai bagian dari tugas kantor untuk melakukan Monitoring Learning and Evaluation (MLE) dari proyek Mangrove for the Future (MFF). Kebetulan salah satu kelompok masyarakat dari Desa Torosiaje, yaitu KSL Padakauang yang dipimpin oleh Pak Umar Pasandre, terpilih sebagai penerima hibah dari MFF. Sebetulnya saya sudah 3 kalian berkunjung ke Propinsi Gorontalo, untuk kepentingan proyek yang sama, tetapi hanya kali ini punya kesempatan yang luar biasa ini.

IMG_8257Untuk mencapai lokasi Desa Torosiaje Laut memang perlu usaha ekstra karena jaraknya yang cukup jauh. Dari Kota Gorontalo, perjalanan ditempuh dengan menyusuri jalan trans Sulawesi, kearah Makassar, Sulawesi Selatan dan kemudian Palu, Sulawesi Tengah. Kota terdekat yang dilalui adalah menuju Marissa, ibu kota Kabupaten Pohuwato dengan waktu tempuh sekitar 4 jam untuk jarak sekitaar 150 km. Sepanjang jalan yang berkelak-kelok pemandangan yang paling umum ditemui adalah hamparan kebun jagung, yang memang jadi komoditas unggulan Propinsi Gorontalo. Kalau penasaran, di beberapa tempat tersedia warung yang menyediakan jagung rebus dan bakar untuk dicicipi, dicampur dengan serbuk ebi/udang kecil dan sambal yang lumayan bikin lidah keluar karena pedasnya. Rasa jagungnya agak berbeda dengan yang biasa saya nikmati di kampung. Disini biasanya berukuran lebih kecil, bulirnya berwarna putih dan rasanya lumayan legit waktu digigit. Dalam sekali makan, bisa 4-5 tongkol dihabiskan.

Baca lebih lanjut

.. surat terbuka untuk anakku yang akan menjalani UN

Bogor, 20 Maret 2014

Kepada Anakku tercinta,

Khansa Fadhillah Noorputeri

Kelas 9C

SMP IT Ummul Qur’a

Bogor

 

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

 

Anakku, Dilla sholihah,

 

IMG_9923Kami diminta oleh Gurumu di sekolah untuk memberikan balasan “Surat Cinta” yang kau kirimkan kepada kami beberapa waktu yang lalu. Tentu saja kami dengan senang hati melakukannya, apalagi jika itu bisa membesarkan hatimu dan mendorongmu untuk dapat meraih hasil belajar yang lebih baik. Namun kau juga pasti tahu bahwa kami bukan orang tua yang dengan gampang menyampaikan perasaan dan nasihat kami secara verbal. Kaupun pasti merasakan bahwa kami lebih berusaha untuk berkomunikasi dengan memberikan contoh dan kemudian memberikan kebebasan kepadamu untuk mengekspresikan tanggapanmu terhadap contoh yang kami berikan. Tentu tak selalu kami secara sempurna berhasil memberikan contoh yang bisa disebut sebagai teladan, karena kamipun sedang belajar untuk menjadi orang tua yang baik, sesuai dengan perkembangan zaman dimana engkau hidup saat ini. Kami beri dirimu kebebasan untuk mengkritisi kekurangan kami sebagai orang tua, dan disaat yang sama kita juga setuju bahwa dirimu siap untuk diberikan saran-saran supaya hidupmu kedepan bisa berjalan sesuai dengan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala  yang disampaikan melalui Rasul-Nya yang mulia, Muhammad Rasullullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Baca lebih lanjut